Menu

Tiga Ulama Ini akan Dieksekusi Pemerintah Saudi Setelah Ramadhan, Ini Alasannya

Satria Utama 23 May 2019, 10:39
Tiga ulama yang dilaporkan akan dieksekusi mati otoritas berwenang Arab Saudi usai Ramadhan nanti. Foto/Twitter @thevoiceofresi1
Tiga ulama yang dilaporkan akan dieksekusi mati otoritas berwenang Arab Saudi usai Ramadhan nanti. Foto/Twitter @thevoiceofresi1

RIAU24.COM -  RIYADH - Dituduh terlibat terorisme, tiga ulama Sunni bakal dieksekusi mati oleh otoritas berwenang Arab Saudi setelah Ramadhan. Ketiga ulama Sunni tersebut antara lain Wad al-Qarni, Ali al-Omari, dan Sheikh Salman al-Odah. Ketiganya ditangkap pada bulan September 2017 bersama 20 ulama lainnya.

Laporan itu dipublikasikan Middle East Eye, Rabu kemarin. Laporan media yang berbasis di London itu mengutip sumber di Saudi. Namun pemerintah Kerajaan Arab Saudi belum mengonfirmasi rencana eksekusi mati tersebut.

Seorang sumber Saudi mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Riyadh pada awalnya berhati-hati untuk mengejar eksekusi bagi para ulama."Tetapi ketika mereka menemukan ada sangat sedikit reaksi internasional, terutama di tingkat pemerintahan dan kepala negara, mereka memutuskan untuk melanjutkan," katanya seperti dikutip Sindonews.

Sumber itu juga mengatakan pemerintah berharap untuk mengambil keuntungan dari ketegangan AS dengan Iran, untuk meminimalkan pukulan balik internasional dari rencana eksekusi tersebut.

Dari ketiga ulama tersebut, Al-Odah sejauh ini merupakan yang paling terkenal. Akun Twitter-nya memiliki 13,4 juta follower. Para follower tersebut telah mengampanyekan tagar #freesalmanalodah dan kampanye pernyataan "Salman al-Odah bukan teroris". Stasiun televisi yang dikelola al-Odah, "For Youth" juga memiliki banyak pendukung.

Al-Odah dikenai 37 dakwaan terorisme karena begitu keras mengkritik pemerintah. Dia juga dituduh berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, sebuah gerakan Islam yang pernah memiliki hubungan dekat dengan monarki Saudi.

Hubungan Ikhwanul Muslimin dengan Kerajaan Saudi rusak setelah kelompok itu semakin kritis terhadap aturan keras Riyadh dan dekat dengan Qatar yang saat ini menjadi rival Kerajaan Saudi. Pada 2014, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman memerintahkan Ikhwanul Muslimin dinyatakan sebagai organisasi teroris.

Bulan lalu, Arab Saudi mengeksekusi 37 orang, sebagian besar aktivis Syiah, atas tuduhan terorisme. Menurut kelompok HAM Reprieve, negara itu telah mengeksekusi 105 orang pada tahun ini, 44 di antaranya warga negara asing.***

 

R24/bara