Menu

Program Replanting Karet di Meranti Terkendala, Ini Alasannya

Ahmad Yuliar 30 Jul 2019, 21:01
Kadis Perkebunan,  Tengku Efendi/mad
Kadis Perkebunan, Tengku Efendi/mad

RIAU24.COM -  SELATPANJANG-Program replanting atau peremajaan menjadi salah satu upaya pemerintah dalam membantu masyarakat petani. Namun tidak semua masyarakat ingin kebunnya diremajakan.

Seperti di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Banyak petani karet tidak ingin tanamannya diganti dengan yang baru. Alasannya, karena sejak ditanam, sampai masa panen, petani tidak memiliki penghasilan.

“Umumnya petani kita tidak ingin kebun karetnya yang sudah berumur puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun di replanting. Khususnya yang hidupnya hanya mengandalkan hasil karet. Padahal produksi nya sudah sangat sedikit,” ungkap Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Kepulauan Meranti, Tengku Efendi.

Menurutnya saat ini dari total  20,701 Hektare luasan perkebunan karet di Meranti, 80 persennya sudah mesti diremajakan. Tentunya tidak seimbang dengan jumlah produksi.

“Ini yang masih menjadi persoalan kita untuk memaksimalkan program peremajaan. Agar bisa berjalan tentunya membutuhkan bantuan dari seluruh kades dan camat,” sebutnya.

Selain itu ia juga akan berupaya mensejalankan program replanting dengan program produk hortikultura. Sehingga bisa menjadi solusi bagi petani agar tetap bisa mendapatkan penghasilan selain perkebunan karet.

“Jadi, seluruh kelompok tani yang mendapatkan program replanting juga akan mendapatkan program tanaman jenis hortikultura yang masa panennya hanya 3 sampai 4 bulan saja. Sambil menunggu bibit karet membesar hingga menghasilkan, petani tetap bisa mendapatkan penghasilan dari produk hortikultura seperti lengkuas, jahe dan lainnya,”jelas Tengku efendi.

Kepala Bidang Perkebunan, Syafril menyebutkan program replanting karet setiap tahunnya dialokasikan Pemerintah Pusat. Termasuk juga program perluasan.

“Namun yang hanya berjalan maksimal adalah program perluasan perkebunan karet saja. Sementara program replanting belum berjalan maksimal akibat banyak petani yang menolak. Namun secara perlahan kita terus memberikan masukan agar kebun mereka mau diremajakan untuk hasil yang lebih maksimal,” tambahnya.***


R24/phi/mad