Menu

OPINI : Prediksi Pemilih Calon Presiden 2019

Satria Utama 15 Apr 2019, 08:43
Dr. Harmaini, S.Psi., M.Si
Dr. Harmaini, S.Psi., M.Si

Ketiga indikator yang sebut sebelumnya yaitu siapa dan bagaimana calon, apa yang telah dilakukan calon dan dengan siapa calon berteman atau didukung. Sekali lagi informasi yang berkembang selama ini sulit untuk dikatakan salah dan benar atau betul-betul benar. Akhirnya pemilih dalam menerima dan mengasosiasikan informasi yang didapat cenderung dipengaruhi oleh subyektivitasnya.

Misal, beredar isu bahwa calon nomor 01 dikaitkan dengan PKI, lebih memihak pada Cina, mendeskriditkan Islam dan umat Islam. Pasangan nomor 02 beredar isu sebagai pelanggar HAM berat, lebih dekat dengan Rezim orde baru, berasal dari keluarga nasrani, dan berbagai isu lainnya. Isu-isu tersebut sampai sekarang sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Kesulitan tersebut terjadi karena banyak hal, salah satunya adalah masing-masing calon tidak menjawab secara tegas tentang isu tersebut. Yang terjadi kemudian dimasyarakat sebagai pemilih adalah, mengasosiaikan saja fakta pada masing-masing calon dengan isu tersebut.

Fakta yang dimaksud adalah yang bisa dibuktikan secara nyata, misal, siapa atau sesiapa yang mendukung calon dan berkoalisi selama ini. Subyek yang menjadi mendukung calon tersebut menjadi pesan dan bernilai penting bagi pemilih. Apakah positif atau negatif. Kalau teman tersebut dinilai negatif, maka calon presiden juga akan diniliai negatif begitu juga sebaliknya. Proses dan hasil dari asosiasi tersebut itulah yang saya sebut dengan subyektivitas pemilih. Kebenaran proses dan hasil yang ada pada seseorang tidak bisa diperdebatkan dan dipertanggungjawabkan. karena itu hanya hasil asosiasi individual saja. Hasil dari proses asosiasi itulah akan menentukan kepada siapa kecenderungan pemilih memilih siapa.

Dalam diri seseorang sebenarnya sudah terbentuk sebuah skema mental tentang fenomena-fenomena sosial. Apabila individu ingin mengaktifkan sebagai respon terhadap suatu fenomena yang baru, seseorang tinggal menggunakan skema mental yang sudah ada dalam dirinya. Ini dilakukan seseorang untuk efisiensi dalam berperilaku. Jadi apabila sudah terbentuk suatu skema mental, sulit baginya untuk merubah skema mental tersebut. Skema mental tersebut akan berubah kalau pada diri orang tersebut melakukan koreksi terhadap skema mental tersebut. Koreksian akan terjadi apabila individu tidak lagi ingin berada dalam subyektivitasnya dan apabila dia berada dalam ketidakseimbangan.

Ketidakseimbangan akan menjadi point penting dalam berubah atau tidak berubahnya skema mental. Artinya apabila seseorang sudah merasa seimbang (nyaman) dengan pilihannya, maka skema mental tersebut tidak akan dirubah.

Apabia seseorang punya suatu skema mental yang diyakini dan melakukan sesuai dengan keyakinannya itu, itulah yang saya maksud dengan orang ingin berada dalam kesimbangan. Dan kalau sebaliknya, artinya memutuskan sesuatu diluar skema mental atau keyakinannya maka akan terjadi ketidakseimbangan.

Halaman: 123Lihat Semua