Pria China Tipu 29 Wanita Indonesia, Diajak Nikah Tapi Dijadikan Budak Pencari Uang

Satria Utama
Minggu, 23 Juni 2019 | 19:24 WIB
Wanita korban perdagangan orang/ilustrasi R24/saut Wanita korban perdagangan orang/ilustrasi

RIAU24.COM -  Sebanyak 29 perempuan Indonesia menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dengan modus perkawinan pesanan di China. 

Dari 29 korban, sebanyak 13 korban perempuan berasal dari Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sedangkan, 16 korban lainnya berasal dari Jawa Barat.

Kasus memilukan ini diungkap LBH Jakarta bersama Serikat Buruh Migran Indonesia yang tergabung dalam Jaringan Buruh Migran.

"Hal ini diduga modus TPPO. Temuan Ini dikuatkan dengan melihat tiga proses pelanggaran TPPO, yakni prosesnya, caranya, dan untuk tujuan eksploitasi sebagaimana yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang," tutur Sekretaris Jendral SBMI Bobi di kantor LBH Jakarta, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (23/6/2019) seperti dilansir suara.com.

Dijelaskannya, sindikat itu melibatkan perekrut di Indonesia untuk mencari korban dan memperkenalkan mereka dengan lelaki asal China. Ketika diperkenalkan dengan warga China, para korban ditipu dengan disebutkan bahwa mempelai lelaki adalah orang kaya raya di negeri Tirai Bambu.

Tapi setelah dibawa ke China, tambah Bobi, semua perempuan itu dieksploitasi. Berdasar data pelaporan korban yang dihimpun oleh SBMI, sesampainya di tempat asal suami, mereka diharuskan untuk bekerja di pabrik dengan jam kerja panjang.

Bahkan, lanjutnya, sepulang kerja, korban juga diwajibkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan membuat kerajinan tangan untuk dijual.

Seluruh gaji dan hasil penjualan pun dikuasai oleh suami dan keluarga suami. "Para korbanpun dilarang untuk berhubungan dengan keluarga dan bila ingin kembali ke Indonesia, mereka diancam mengganti kerugian yang sudah dikeluarkan oleh keluarga suami,” tuturnya.

Yang lebih menyedihkan, kata Bobi, tidak hanya suami dan keluarga suami yang mengeksploitasi para korban, eksploitasi juga dilakukan oleh sindikat perekrut yang terorganisasai dengan mengambil keuntungan ratusan juta Rupiah dari perkawinan pesanan ini.***

 

R24/bara


Informasi Anda Genggam


Loading...