riau24

Kolom Wirausaha : Antara Peluang dan Kesiapan

Satria Utama
Kamis, 18 Juli 2019 | 11:26 WIB
 Coach Hariadi R24/saut Coach Hariadi

Oleh : Hariadi
Certified Trainer dan Coach di Cerekas Entrepeneur School


"Milikilah Usaha, Sekecil apapun, Meski penghasilan kita sebagai karyawan sudah mencukupi, karena kita tidak tau apa yang akan terjadi sepuluh tahun ke depan”

Beberapa tahun belakangan  ini, saya banyak menggarap training dan coaching wirasuaha di masyarakat. saya juga melakukan seminar-seminar bisnis di berbagai tempat baik sebagai peserta maupun sebagai narasumber. Dalam seminar seminar tersebut saya melihat ada banyak orang yang tertarik untuk megembangakan usaha.Sebagai seorang trainer dan coach yang bekerja untuk mendorong sebanyak mungkin masyarakat menjadi wirausahawan, jumlah peserta yang cukup banyak itu tentu membuat saya senang.

Namun, ketika saya melihat lebih objektif dan detail, saya menemukan fakta baru yang membuat saya gigit jari dan memahami betapa saya harus bekerja lebih keras lagi. Masyarakat yang memiliki kemauan untuk memulai usaha ternyata angkanya tidak pernah lebih dari 1% dari jumlah penduduk yang ada.

Hal ini senada dengan data BPS 2018 yang menyebutkan bahwa jumlah wirausahawan Indonesia hingga 2018 baru 3,1% dari jumlah penduduk Indonesia. Rata rata negara maju memiliki jumlah wirausahawan di atas 14%. Presiden Indonesia Bapak Joko Widodo dalam sambutannya pada pertemuan dengan HIPMI di Jakarta pusat pada Agustus 2018 kemaren menyampaikan, guna mendukung iklim ekonomi masyarakat yang lebih sehat, setidaknya Indonesia harus memiliki wirausahawan minimal 7%.

Saya melihat angka ini seperti dua sisi mata uang. Untuk gampangnya kita sebut saja sisi tantangan dan sisi peluang ya. Pertama, sisi tentangan. Jumlah wirausahawan yang sangat sedikit tersebut menunjukkan bahwa masyarakat belum tertarik menjadi wirausahawan. Artinya butuh kerja ekstra dan effort lebih untuk mencapai Wirausahawan 7%. Saya melihat ada banyak hal yang menyebabkan orang tidak tertarik menjadi wirausahawan.

Tiga alasan yang paling banyak yang dapat saya rangkum adalah (1) Sehubungan dengan Mindset tentang wirausaha, (2) Kemampuan berwirausaha, (3) Zona nyaman. Sehubungan dengan Mindset wirausaha misalnya, masyarakat masih banyak yang memiliki mindset bahwa sukses adalah bekerja, berwirausaha adalah bermain dalam ketidakpastian dan sebagainya. Nah berkenaan hal-hal apa saja yang menjadi penghambat orang untuk berwirausaha, kita akan bahas pada tulisan setelah ini ya. Pada bagian ini kita fokus pada Peluang dan Kesiapan dulu.

Kedua, sisi peluang. Jumlah yang sedikit tersebut juga memperlihatkan kepada kita bahwa ada peluang besar untuk mengisi kekosongan yang ada. Jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan pasar yang luas untuk setiap produk barang dan jasa yang kita sodorkan. Kita bisa melihat bagaimana mulai dari penjual makanan pinggir jalan, youtuber, hingga layanan gofood berkembang pesat di Indonesia.

Hampir semua produk dan jasa asal dibutuhkan, aksesnya gampang, harganya bersaing, semuanya ludes di pasar Indonesia. Mulai dari balon mainan anak anak, hingga properti untuk investasi masa depan, semuanya laris manis di negara dengan penduduk yang ramai ini. Pertanyaan besarnya sekarang apakah kita mau ambil peluang tersebut atau tidak. Mau tetap jadi penikmat atau menjadi pemain?.

Menghadapi dua sisi mata uang wirausaha ini, saya ingat pesan dari Pak Bagus Hernowo seorang motivator bisnis sekaligus direktur HNI HPAI. Beliau pernah bilang begini “Sukses Itu Adalah Bertemunya Variabel Kesempatan Dan Variabel Kesiapan”. Saya mau sampaikan bagini, kesempatannya sudah tersedia, begitu terang dan jelas di depan mata kita bahkan kita pun termasuk bagian dari kesempatan itu. Sayangnya banyak yang tidak siap ketika kesempatan ini datang.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menyongsong kesempatan atau peluang tersebut?. tidak ada, selain mempersiapkan diri, siap yang saya maksudkan ini adalah memiliki kecakapan. Cakap itu adalah memiliki keterampilan dan sikap positif. Kecakapan dapat dibentuk dengan dua cara, pertama dengan pengalaman dan kedua dengan pelatihan.

Pertama, pengalaman. Pengalaman diperoleh dengan trial and error, ada banyak orang yang siap menyongsong peluang usaha setelah sebelumnya jatuh bangun memulai usaha. Coba, gagal, coba lagi gagal lagi, sampai kemudian ia belajar dari semua pengalaman dan menemukan formula atau cara tepat untuk mengembangkan usahanya, kemudian mengerjakannya terus dan terus. Wah, tentu membutuhkan waktu yang lama dan modal yang lumayan ya?, tentu, kan ada tu pepatah yang bilang “Pengalaman adalah Guru Terbaik”, namanya juga guru terbaik, wajarkan bayarannya mahal.

Cara kedua yang lebih mudah untuk menjadi cakap sebagai wirausahawan adalah dengan mengikuti pelatihan dan menemukan mentor usaha. Ada sebuah pepatah bagus untuk kita dalam hal ini. “Tidak ada yang mampu, yang ada adalah yang terlatih”. Kita semua pada dasarnya tidak ada yang mampu, kita semua menjadi mampu melalui proses berlatih yang dibimbing seorang mentor. Bahkan makan dan berjalan pun awalnya kita tidak mampu sampai orang tua kita mengajarkan dan mencontohkannya untuk kita.

So, bagi anda yang tertarik menjadi wirausahawan, anda bisa memulainya sekrang ya, bisa langsung action buka usaha untuk dapetin pengalaman, atau ikut pelatihan dan seminar seminar bisnis untuk dapetin pengalaman dari para mentor. Time is yours.***



Informasi Anda Genggam



Loading...