riau24

Kepsek Sudah Dilaporkan Soal Kelas Kayu Berlantai Tanah, Perusahaan dan Pemda Tidak Merespon

Rabu, 02 Oktober 2019 | 18:15 WIB
Kepala Sekolah SD 006 Kecamatan Kepenuhan, Desa Ulak Patian, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, Andimarianto mengatakan sudah lakukan melaporkan kelas kayu berlantai tanah di sekolahnya (foto/istimewa) R24/riki Kepala Sekolah SD 006 Kecamatan Kepenuhan, Desa Ulak Patian, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, Andimarianto mengatakan sudah lakukan melaporkan kelas kayu berlantai tanah di sekolahnya (foto/istimewa)

RIAU24.COM -  Rabu 2 Oktober 2019, Kepala Sekolah SD 006 Kecamatan Kepenuhan, Desa Ulak Patian, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, Andimarianto mengatakan sudah lakukan melaporkan kelas kayu berlantai tanah di sekolahnya. Selain ke Pemerintah Daerah Kabupaten Rokan Hulu, dirinya juga meminta bantuan ke perusahaan dekat sekolah.

Namun seakan semua 'tutup mata' sehingga siswa kelas 1 dan 2 harus belajar di kelas papan dan lantai tanah itu sepanjang tahun ini. "Sudah pernah disampaikan ke Pemda Rohul melalui Dinas Pendidikannya juga perusahaan disekitar sekolah kita. Tapi sampai hari ini belum ada kejelasan," sebutnya melalui sambungan telepon, Rabu, 2 Oktober 2019.


BACA JUGA : Cegah Meluasnya Dampak Covid-19, Rohul Bicara Siapkan Sembako Bagi Masyarakat Kurang Mampu




Bahkan pihaknya juga meminta bantuan kepada Pemerintah Provinsi Riau di tahun 2018. "Kami dulu ada masukkan proposal ke provinsi dan sudah ok. Katanya dapat bantuan untuk dua kelas. Bahkan mereka sudah meninjau ke sekolah kami tapi belum ada juga sampai saat ini. Entah apa masalahnya," jelasnya.

Kepsek SD 006 Kecamatan Kepenuhan, Andimarianto menjelaskan bahwa sekolah ini merupakan SD satu-satunya yang diperuntukkan bagi 350 Kepala Keluarga (KK). Karena tak kunjung diperbaiki puluhan siswa dari total 200an murid di SD ini menuntut ilmu dengan kondisi ala kadarnya.

BACA JUGA : Peduli Kampung, FAK dan MKA LAM Buka Forum Rohul Bicara



Belum lagi kalau banjir akibat luapan Sungai Rokan Kanan, atap yang rusak, jendela hancur, beralaskan tanah dan lebih parah lagi siswa-siswanya duduk dibawah kursi darurat. "Untuk kursi, siswa kami duduk dengan kursi swadaya saja. Kursinya kami yang bikin sendiri," imbuhnya.

Malangnya, bagian ruang belajar yang dalam kondisi rusak parah dihuni oleh siswa dengan tingkatan 1, 2, 3 dan 4. Untuk 5 dan 6 beruntung menempati ruang belajar yang cukup layak.

Tiap ruangan baik yang rusak parah dan tidak di isi sebanyak 27 sampai 35 orang siswa. Untuk itu dirinya berharap banyak baik ke pemerintah daerah, perusahaan, atau siapa saja yang mau jadi donatur. Sebab kalau mengandalkan swadaya masyarakat maka kelas yang layak tidak akan terwujud.

Penulis: R24/riki



Loading...