riau24

Konsisten Liput Virus Corona, 2 Jurnalis Warga di Wuhan Ini Tiba-tiba 'Menghilang', Ada Apa?

Jumat, 14 Februari 2020 | 16:13 WIB
Chen Qiushi dan Fang Bin, dua jurnalis warga yang kerap meliput virus Corona di Wuhan, saat ini tidak diketahui keberadaannya. Foto: int R24/wan Chen Qiushi dan Fang Bin, dua jurnalis warga yang kerap meliput virus Corona di Wuhan, saat ini tidak diketahui keberadaannya. Foto: int

RIAU24.COM -  Dua jurnalis warga yang selama ini konsisten mengungkap 'kebenaran' tentang apa yang terjadi di Wuhan, pusat penyebaran virus corona, China, kini tiba-tiba menghilang. Sejauh ini, belum didapat informasi pasti, tentang keberadaan keduanya.

Kedua jurnalis warga itu adalah Fang Bin dan Chen Qiushi. Sejak Kota Wuhan dikarantina karena wabah virus Corona, keduanya telah beberapa kali membagikan video online di sosial media. Video tersebut berisi kisa-kisah dramatis dari dalam kota Wuhan yang berkaitan dengan virus ganas itu. 

Sejauh ini, ribuan orang telah menonton video laporan mereka berdua, yang direkam dari Kota Wuhan, ibukota Provinsi Hubei.


space

BACA JUGA : Sebuah Serangan Bom Bunuh Diri Tewaskan Beberapa Orang Dalam Sebuah Upacara Keagamaan di Pakistan


Dilansir bbcnewsindonesia, Jumat 14 Februari 2020, saat ini akun media sosial keduanya, tiba-tiba menjadi sunyi. Para pengikut di akun sosial media Fang dan Chen, kini dilanda kekhawatiran, jangan-jangan keduanya akan menghilang untuk selamannya.

Fang Bin, awalnya adalah seorang pengusaha di Wuhan. Sejak wabah virus Corona merebak di Wuhan, ia mulai membagikan rekaman video tentang apa yang berkaitan dengan virus itu di Kota Wuhan.

Dalam unduhannya, Fang Bin berjanji akan selalu 'melaporkan situasi aktual di sini" (Kota Wuhan, red) dan berupaya "melakukan yang terbaik" dalam pelaporan.

Video pertamanya, diunggah pada 25 Januari 2020 lalu ke saluran YouTube. Meski dilarang otoritas China, namun rekaman video itu masih bisa diakses melalui jaringan pribadi virtual (VPN).

Beberapa video pertama yang dibagikan itu tentang kegiatan Fang berkeliling kota dan menunjukan situasi di berbagai tempat. Video-video itu ditonton kurang lebih 1.000 kali.

Namun pada 1 Februari 2020, Fang merekam suatu kejadian yang menyita perhatian orang dan telah ditonton lebih dari 200 ribu kali. Dalam rekaman itu, Fang menunjukan delapan mayat yang ditumpuk di dalam minibus di luar rumah sakit di Wuhan.

Setelah video itu viral, Fang menuduh polisi menerobos masuk ke rumahnya pada malam hari yang sama, dan menginterogasi tentang video tersebut. Fang sempat dibawa pergi oleh polisi. Ia kemudian diberi peringatan lalu dibebaskan. 

Meski demikian, Fang tidak berhenti. Selanjutnya pada 9 Februari 2020, ia kembali membagikan sebuah video durasi 13 detik dengan tulisan "semua orang memberontak - menyerahkan kembali kekuasaan pemerintah kepada rakyat".

Setelah video itu, akun media sosialnya pun menjadi sunyi.

Mantan Pengacara 
Sementara itu, Chen Qiushi adalah mantan pengacara hak asasi manusia. Selama ini, ia cukup dikenal di kalangan aktivis.

Reputasi perjuangan Chen terbangun dan dikenal sejak ia mengabarkan peristiwa protes di Hong Kong, Agustus lalu. Saat kembali ke daratan China, otoritas China melecehkan dan memberangus akun sosial dan hasil liputannya. Namu aktivitasnya di dunia maya tak berhenti. 

Pada akhir Januari lalu, Chen memutuskan masuk ke dalam Kota Wuhan guna melaporkan situasi yang terjadi di pusat wabah virus Corona tersebut.

"Saya akan menggunakan kamera saya untuk mendokumentasikan apa yang sebenarnya terjadi. Saya berjanji tidak akan ... menutupi kebenaran," kata Chen dalam video YouTube pertamanya.

Setelah sampai di Wuhan, Chen mengunjungi berbagai rumah sakit di Wuhan, melihat kondisinya dan berbicara dengan para pasien.

Chen bukan tidak menyadari bahwa tindakan itu membahayakan dirinya. Pada awal Februari lalu, ia sempat curhat kepada wartawan BBC, John Sudworth, bahwa dia tidak yakin berapa lama bisa melanjutkan tindakan itu.

"Sensornya sangat ketat dan akun orang-orang ditutup jika mereka membagikan konten saya," katanya.

Kemudian, pada tanggal 7 Februari lalu, ibu Chen yang bercerita bahwa Chen telah hilang sehari sebelumnya. Pengakuan sang ibu diunduh dalam akun Twitter Chen, yang kini dikelola temannya, Xu Xiaodong. Melalui sebuah video YouTube, Xu Xiaodong kemudian menuduh bahwa Chen telah dikarantina secara paksa.

space

BACA JUGA : Tragis, Ratusan Bayi dan Anak-Anak Sekarat Karena Tidur di Bawah Cuaca Beku di Suriah

space

Masih Membisu 

Sejauh ini, pihak berwenang China tetap membisu tentang hilangnya dua jurnalis warga tersebut. Belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang tentang di mana keberadaan Fang Bin dan Chen Qiushi, atau sejak kapan dan dimana keberadaan mereka jika dikarantina.

Peneliti dari Amnesty Internasional, Patrick Poon mengatakan masih belum jelas apakah Chen atau Fang "dibawa pergi oleh polisi atau ditempatkan di bawah `karantina paksa` ".

"Pihak berwenang China harus memberi tahu keluarga mereka dan memberi mereka akses memilih dan mendapatkan pengacara. Kalau tidak terjadi maka itu adalah bukti bahwa mereka berisiko disiksa atau diperlakukan sewenang-wenang," kata Poon kepada BBC.

Sementara itu, di situs berita China, Weibo, muncul beberapa komentar yang menyebutkan tentang Chen dan Fang. Namun ada kemungkinan, respon dari netizen China tentang keduanya, akan segera hilang disingkirkan sensor China yang selalu waspada. ***

Penulis: R24/wan





Loading...