riau24

Ketakutan, China akan Musnahkan Uang Tercemar Virus Corona

Senin, 17 Februari 2020 | 10:41 WIB
Uang China R24/saut Uang China

RIAU24.COM -  Pemerintah China tak mau ambil resiko terhadap meluasnya virus Corona. Sebagai langkah antisipasi,  Bank sentral China, The People's Bank of China (PBOC) mengumumkan rencana untuk menghancurkan uang kertas yang terinfeksi virus maut tersebut. 

Dikutip Inews dari Business Insider, Senin (17/2/2020), PBOC meminta agar uang kertas yang berisiko tinggi terpapar virus korona untuk segera dihancurkan atau disterilisasi dengan disinfektan. Uang beresiko tinggi adalah yang beredar dari rumah sakit, transportasi umum, serta pasar tradisional dan modern.


BACA JUGA : Egois, Pria Thailand Ini Nekat Meludah, Batuk dan Muntah di Stasiun Kereta, Dan Hal Tragis Ini yang Terjadi Selanjutnya...


Meski nantinya sudah disterilisasi, bank-bank tetap diminta tidak mengedarkan kembali uang tersebut selama minimal 14 hari.

Uang-uang berisiko tinggi yang masuk ke bank sentral juga diperlakukan hal yang sama. Uang tersebut akan disetrilisasi dengan suhu tinggi atau sinar ultraviolet dan disimpan lebih dari 14 hari sebelum diedarkan kembali.

Sementara uang-uang cetakan lama diprioritaskan untuk dihancurkan. Penghancuran uang tidak akan mengurangi nilai uang beredar karena diganti dengan cetakan baru.

BACA JUGA : Viral, Bocah Malaysia Ini Berbagi Kisah Memilukan Tentang Keluarganya yang Tidak Makan Selama Tiga Hari

Salah satu pejabat bank besar di Guangzhou kepada Caixin  mengungkapkan, petugas bank akan menanyakan nasabah yang hendak menabung dari mana uang mereka berasal. Namun, tak ada jaminan untuk memilah uang yang berisiko atau tidak dengan benar. "Sulit sekali untuk memastikan langkah ini bisa benar-benar efektif," katanya.

Deputi Gubernur PBOC Fan Yifei mengatakan, bank sentral telah menyuntikkan likuiditas sebesar 600 miliar yuan ke dalam sistem keuangan China dalam satu bulan terakhir. Yifei menyebut, PBOC akan terus menambah pasokan uang tunai untuk membantu perekonomian di tengah wabah virus korona dan perang dagang dengan AS.***

Penulis: R24/saut



Loading...