riau24

Jeritan Pengusaha Di Tengah Pandemi Corona: Stop Dulu Bicarakan THR, Buat Bayar Gaji Saja Susah...

Ryan Edi Saputra
Rabu, 08 April 2020 | 12:13 WIB
Ilustrasi buruh R24/put Ilustrasi buruh

RIAU24.COM - JAKARTA - Wabah virus corona berdampak pada perekonomian masyarakat. Banyaknya usaha yang harus tutup karena wabah ini membuat beberapa pengusaha menjerit.

Di saat bersamaan, pengusaha harus membayar gaji serta persiapan THR menyambut Lebaran yang sebentar lagi datang. Beban ini menjadi pukulan berat terutama bagi pengusah yang berdampak langsung dengan pandemi ini.
Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Mardani H Maming masih mencari cara agar para pengusaha mau membayar tunjangan hari raya (THR). Dia pun meminta agar semua pihak tidak membicarakan soal THR di masa-masa sekarang ini.


BACA JUGA : Dana Haji Digunakan Untuk Perbaiki Rupiah, Jokowi Bakal Dikutuk Umat Islam Tujuh Turunan


"Untuk THR, kami dari pengusaha untuk minta dipending dulu. Karena tidak elok dibahas pada kondisi sekarang. Bukan tidak dikasih ya, tapi dipending bahwa jangankan bicara THR. Setelah membahas melalui video confrence dengan HIPMI di seluruh daerah, untuk membayar gaji saja sekarang sedang kesulitan," kata Maming dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4/2020) melansor gelora.co.

Saat ini para pengusaha di bawah naungan HIPMI berusaha agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Itu saja telah menjadi hal yang harus dikaji lagi. Selain itu, para pengusaha menilai pemberian THR menjadi beban tahun ini.

BACA JUGA : Tanggapi Rencana BPKH Pakai dana Haji Untuk Perkuat Rupiah, Rizal Ramli: Sudah Kehabisan Ide, Payah Deh

"Kita berpikir mau bayar dari mana kalau sekarang terus bahas THR? Ini bisa PHK karena beban kami sangat berat. Banyak sektor usaha yang sama sekali tidak beroperasi lagi," kata Maming.
Ia pun meminta adanya kebijakan dari Kementerian Ketenagakerjaan agar pengusaha tidak terbebani.

"Kami mohon kebijakan dari Kementerian Ketenagakerjaan bisa mengeluarkan juga kebijakan yang win-win solution kepada pengusaha," sarannya.

Mungkin ada jalan keluar juga bagaimana peraturan yang diaplilkasikan. Perusahaan dan karyawan bisa berdiskusi secara internal dan negosiasi antara pengusaha dan karyawan itu sendiri. Intinya dikembalikan lagi kepada pengusaha dan pegawai masing-masing untuk mencari jalan tengah. Insyallah kita akan cari wayout dan solusi bersama," ucapnya. ***

 

 



Informasi Anda Genggam



Loading...