Terbukti, Negara yang Dipimpin Perempuan Lebih Baik Dalam Perangi Virus Corona, Kok Bisa?

Siswandi
Rabu, 22 April 2020 | 09:54 WIB
Presiden Tsai Ing-wen mengenakan masker bersama para pejabat dan prajurit. Foto: int R24/wan Presiden Tsai Ing-wen mengenakan masker bersama para pejabat dan prajurit. Foto: int

RIAU24.COM -  Ada sebuah fakta yang terungkap terkait perang melawan virus Corona di dunia. Fakta ini cukup mengejutkan, karena negara-negara yang masuk dalam katerogi sukses memerangi virus mematikan itu, justru dipimpin kaum perempuan. Kok bisa?

Beberapa negara seperti Selandia Baru, Jerman, Taiwan, dan Norwegia, disebut sukses menekan angka kematian akibat wabah virus Corona. Faktanya, Keempat negara itu memang dipimpin perempuan. 

Dilansir viva yang merangkum bbcindonesia, Rabu 22 April 2020, ada beberapa faktor mengapa kondisi itu bisa terjadi. 
Meskipun ada juga fakta yang menunjukkan negara yang dipimpin seorang perempuan juga tak bisa dikatakan sukses dalam memerangi virus mematikan ini. 

Salah satu faktor keberhasilan itu adalah, para para pemimpin perempuan tersebut bertindak dengan cepat dan berdasarkan pertimbangan sains. Selain itu, mereka juga langsung bertindak dan melakukan antisipasi sejak dini. 

Baca juga: Tak Mati, Dokter Ini Sukses Pindahkan Otak Dari Tempurung Kepala Anjing

Salah satu contohnya, seperti yang dilakukan Perdana Menteri Islandia, Katrín Jakobsdóttir. Meski penduduk di negara itu hanya berjumlah 360 ribu jiwa, Islandia tidak bersikap santai menghadapi wabah Corona. Kebijakan seperti larangan berkumpul 20 orang atau lebih sudah diterapkan sejak akhir Januari 2020 lalu. Padahal, kasus Corona belum sampai melanda negara itu. 

Hasilnya, terbukti hingga 20 April 2020, kasus kematian akibat Corona di negara hanya tercatat sebanyak sembilan orang. 

Begitu pula dengan Taiwan. Presiden Tsai Ing-wen membentuk pusat pengendalian epidemi serta memerintahkan untuk melacak dan menghambat penyebaran virus Corona. Taiwan juga meningkatkan produksi alat pelindung diri (APD), seperti masker wajah. 

Hasilnya, sejauh ini kasus kematian akibat Corona di Taiwan tercatat enam orang, dari total 24 juta jiwa penduduk.

Sementara itu di Selandia Baru, PM Jacinda Ardern mengambil salah satu kebijakan terketat di dunia dalam menghadapi virus Corona. Pendekatan Ardern adalah benar-benar menghentikan penyebaran. Seluruh penduduk Selandia Baru ditempatkan dalam karantina wilayah alias lockdown ketika korban jiwa mencapai enam orang. 

Hasilnya, hingga 20 April 2020, kasus kematian akibat Corona tercatat sebanyak 12 orang.

Namun fakta lain mengungkapkan, ada juga negara yang dipimpin perempuan, ternyata kewalahan dalam menghadapi penyebaran virus Corona. Contohnya adalah Bangladesh yang dipimpin Perdana Menteri Sheikh Hasina. Walau dia telah berupaya menghambat penyebaran virus, ada kekhawatiran mengenai kapasitas pengujian di Bangladesh yang terbatas.

Selain itu, di negara ini juga ada masalah dengan kekurangan alat pelindung diri (APD) yang membuat para tenaga kesehatan semakin terpapar risiko.

Menurut Rosie Campbell, direktur Global Institute for Women`s Leadership di King`s College London, ada sikap yang berbeda yang diambil pemimpin perempuan dalam menghadapi wabah Corona. Meski pun ia juga menyatakan. gaya kepemimpinan tidaklah inheren pada pria dan perempuan.

Salah satunya, pemimpin perempuan cenderung populis dan jauh dari politik `macho`. 
 
Dikatakan, para pemimpin populis cenderung bergantung pada 'pesan-pesan sederhana' guna menggalang dukungan. Cara ini kerap berdampak pada pendekatan mereka dalam menangani pandemi.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan para pemimpin lain seperti Amerika Serikat, Brasil, Israel dan Hongaria. Para pemimpin di negara-negara ini, beberapa kali berupaya menyalahkan hal-hal eksternal, seperti orang-orang asing yang "mengimpor penyakit" ke dalam negara.

"Trump (AS) dan Bolsonaro (Brasil) memilih persona ultra-macho. Itu tidak diprogram dalam biologi mereka bahwa mereka harus bersikap seperti itu, tapi mereka yang memilih demikian," kata Campbell.

Baca juga: Momen Langka, Pejabat AS Tampil Berhijab di Gedung Putih

Namun, terlepas dari fakta bahwa negara-negara tersebut dipimpin perempuan, ada kesamaan lain dari negara-negara yang merespons krisis ini dengan baik: Negara-negara itu adalah negara dengan ekonomi maju, yang memiliki sistem penyokong kesejahteraan dan kerap mencatat angka tinggi pada sebagian besar indikator pembangunan sosial. Selain itu, negara-negara tersebut punya sistem layanan kesehatan yang kuat sehingga mampu menangani kondisi darurat.

Fakta lain juga mengungkap, sejumlah pemimpin pria juga masuk dalam kategori sukses, dalam memerangi virus Corona. Para pemimpin pria tersebut, umumnya tidak masuk dalam jenis pemimpin macho seperti yang disebutkam Campbell di atas. 

Contohnya di Korea Selatan. Langkah yang diambil Presiden Moon Jae-in dalam menghadapi krisis akibat Corona, berujung pada kemenangan partainya dalam pemilihan anggota parlemen, 15 April lalu.

Begitu pula PM Yunani, Kyriakos Mitsotakis, yang disanjung karena dinilai mampu meminimalisir jumlah kematian akibat Covid-19. Untuk diketahui, hingga 20 Apri 2020l, sebanyak 114 orang meninggal di Yunani, negara berpenduduk 11 juta jiwa.

Angka itu sangat jauh bila dibandingkan dengan Italia. Di negara yang berpenduduk 60 juta jiwa itu, tercatat ada 22 ribu orang meninggal dunia karena terjangkit Corona.

Yunani mampu menghadapi wabah ini dengan memprioritaskan anjuran saintifik dan menempuh langkah menjaga jarak aman, sebelum kematian pertama tercatat terjadi di negara itu. ***


Informasi Anda Genggam


Loading...