Menu

Kisah Kelam Didi Kempot, Hidup Terlunta di Jalanan Ibukota Namun Jadi Idola di Belanda dan Suriname

Devi 5 May 2020, 20:47
Kisah Kelam Didi Kempot, Hidup Terlunta di Jalanan Ibukota Namun Jadi Idola di Belanda
Kisah Kelam Didi Kempot, Hidup Terlunta di Jalanan Ibukota Namun Jadi Idola di Belanda

RIAU24.COM -  Kabar kepergian penyanyi campursari Indonesia, Didi Kempot, membawa duka yang sangat mendalam bagi seniman Indonesia dan para penggemarnya yakni Sobat Ambyar. Dijuluki The God Father of Broken Heart, Didi Kempot diduga meninggal akibat serangan jantung. Dilansir dari Okezone.com, Selasa, 5 Mei 2020, meski memiliki nama besar, Didi Kempot merupakan sosok yang mampu memberikan motivasi bagi seniman-seniman muda untuk terus berkarya. Jauh sebelum terkenal, Didi Kempot telah mengalami banyak hal menyedihkan sepanjang karir bermusiknya. 

Seperti dilansir dari CNN, Didi Kempot pernah menceritakan kisah perjalanan karirnya yang tidak mudah. Saat itu, raut wajah Didi Kempot berubah-ubah saat membahas kenangan dirinya memulai karier di dunia musik Indonesia, 30-an tahun lalu. Kadang tertawa, kadang pula mengernyit bila memori pahit itu muncul. Didi mengaku bila ia mulai mengamen sejak tahun 1984. Saat itu Didi masih remaja, berusia 18 tahun. Perjuangan Didi Kempot memang tak bisa dibilang seutuhnya menyenangkan. Mulai mengamen sejak 1984, hanya bermodal gitar dan keyakinan, Didi memantapkan hati menjalani karier dari bermusik. Baginya, selama ada gitar, ia tak akan kelaparan. Gitar adalah sahabatnya mencari uang.

"Saya belajar gitar secara otodidak, gitar itu saya dapat dengan nekat, menjual sepeda pemberian ayah saya untuk dibelikan gitar," kata Didi saat berbincang di Solo, beberapa waktu lalu.

Didi diketahui seorang perokok berat. Sepanjang mengenang kisah hidupnya, asap rokok tak henti menemani perbincangan tersebut, rokok bak menggambarkan betapa keras perjuangan Didi hingga di titik ini.

"Saya berani merantau ke Jakarta, hanya bermodal keyakinan dan kerja keras. Itu yang menggerakkan kaki saya untuk mengadu nasib sebagai pengamen. Waktu itu hanya bawa baju seadanya, di jalanan itu enggak ganti baju tiga sampai empat hari enggak masalah," kata Didi dengan mata yang perlahan sayu

zxc1.

Sesampainya di ibu kota, Didi bersama delapan temannya tidur dalam indekos sempit seharga Rp15 ribu per bulan. Mereka kadang hanya bisa tidur miring, yang penting bisa berteduh dan tak kehujanan juga kepanasan. Di ibukota inilah, yang jadi lokasi nama "Kempot" yang merupakan akronim dari Kelompok Penyanyi Trotoar lahir.

Beratnya hidup di ibukota membuat Didi tak bisa mendapatkan untung. Setiap dapat uang, setiap itu pula habis untuk mabuk. Namun dari momen itu, banyak lagu ia hasilkan. Sayang, musisi 52 tahun ini hanya mengingat sedikit lagu yang ditulis saat mengamen, antara lain We Cen Yu, Cidro, Moblong-Moblong, Lerteler Meneh dan Podo Pintere. "Lagu-lagu itu dulu booming di dunia mengamen, tapi belum ada rekamannya. Orang-orang di bis pasti bertanya ini lagu siapa. Dari situ saya punya keyakinan," kata pria kelahiran 1966 ini.

Usai mengamen, Didi Kempot menyebut biasanya menyediakan waktu untuk merekam lagu menggunakan kaset kosong dan tape recorder. Ketika satu lagu sudah direkam, Didi kemudian menyerahkannya langsung ke berbagai studio rekaman sebagai demo. Seringkali, rekaman itu hanya berakhir di meja satpam. Sejumlah label yang pernah dilamar Didi adalah MSC Plus dan Musica Studios.

Pintu rezekinya mulai terbuka setelah Musica Studios memanggil Didi karena tertarik dengan demo yang ia berikan. Didi kemudian dibantu oleh Pompi Suradimansyah, anggota band No Koes, dalam mengaransemen musik. Seperti diketahui, dulu Musica itu gudangnya penyanyi top semua.

"Saya memiliki keyakinan ketika itu, karena saya berpikir saya ini dari jalanan tapi Musica mau merekam dan mengedarkan lagu. Walau belum booming saya punya keyakinan," kata Didi.

Perlahan tapi pasti lagu We Cen Yu yang didapuk jadi single mulai dikenal masyarakat, terutama di Jakarta. Lagu yang bernuansa jenaka itu dipilih karena kala itu tren lagu galau tak laku. Rezeki kembali datang. Didi ditawari oleh TVRI untuk membuat video klip dan tayang di televisi nasional satu-satunya kala itu. "Ibu saya bangga, saya pernah bilang sama ibu kalau mau nangis nanti saja kalau saya pulang dan mimpi saya berhasil. Ya saat itu ditangisin benar. terlebih saya muncul di TV, zaman dulu kan muncul di TV sudah luar biasa," kata Didi.

Didi kala itu, pada 1987, meminta sang ibu untuk berdoa agar ia bisa membahagiakan orang tuanya. Berhasil menghasilkan uang dari rekaman dan video musik, Didi bangga setengah mati. Ia pun memutuskan kembali ke Ngawi, ke rumah ibunya, dan menyampaikan kabar gembira itu. Didi bukan hanya membawa kabar bahagia, tetapi juga uang Rp600 ribu hasil jerih payahnya bernyanyi. Sebagian ia berikan kepada sang ibu yang telah bercerai dengan ayahnya, sisanya dibelikan krinjing untuk makam nenek yang pernah merawatnya.

"Video itu lalu ditunggu satu kampung yang menonton pakai aki, dulu belum ada listrik. Saya jadi primadona kampung, di situ saja saya sudah senang. Dari situ karier saya mengalir berjalan." lanjut Didi.

Setelah itu, Didi Kempot kembali ke Jakarta. Kali ini, ia langsung ke studio Musica. Namun label legendaris itu tak langsung membuat album untuk Didi, melainkan single demi single. Salah satunya, Cidro. Ada pertaruhan besar ketika menggarap Cidro. Pertama, lagu ini tak sesuai dengan selera pasar kala itu yang menyukai lagu jenaka. Apalagi untuk melawan single 'Kalau Bulan Bisa Ngomong' milik Doel Sumbang. Kedua, genre campursari yang dibawa Didi belum populer di dekade '80-an. Industri musik kala itu hanya mengenal pop Jawa. Maka, Didi pun dilabeli pop Jawa oleh Musica.

Cidro tak laku di Indonesia, tapi hit di Belanda dan Suriname, dua negara yang memiliki diaspora asal Indonesia termasuk Jawa. Lagu Cidro lah yang kemudian membawa Didi Kempot masuk pesawat terbang dan konser di benua Eropa dan Amerika di dekade '80-an.

Ketika dirinya sampai di Belanda, Didi kaget banyak yang hafal Cidro. Belum selesai dicerna oleh nalar, Didi harus menerima fakta bahwa ia konser di salah satu negara Eropa pada 1993 sedangkan ia belum pernah konser di Indonesia. Momen 'go international' Didi belum selesai. Ia kembali ke Belanda pada 1996 sekaligus melanjutkan ke Suriname. Di negara Amerika Selatan itu, Didi lebih terkenal lagi mengingat banyak orang asli dan keturunan Jawa di sana.

Didi bahkan masih sempat menulis lagu bertajuk Layang Kangen saat pulang ke Indonesia dari Suriname. Bersamaan dengan itu pula, ia ingin merilis album di Suriname meskipun belum pernah melakukannya di Indonesia. Didi Kempot pun mewujudkan keinginannya itu. Dari 1996 hingga 1998, ia merilis 10 album yang hanya dirilis di Belanda dan Suriname.

"Total saya manggung di Suriname sebanyak 11 kali dan Belanda 2 kali," kata Didi sembari bercanda sudah menikmati tiga kali ganti presiden Suriname.

Didi Kempot baru mengicip kesuksesan di tanah kelahiran sendiri ketika berhasil merilis Stasiun Balapan pada 1999 dan meledak di pasaran. Hal ini membuatnya jadi musisi kenamaan di Indonesia. Media cetak dan elektronik yang sebelumnya tak acuh pun mulai meliput Didi. Ia mondar-mandir ke berbagai stasiun televisi untuk promo album.

Kesuksesan album Stasiun Balapan mengantarkan Didi untuk rekaman album kedua bertajuk Modal Dengkul. Setelah itu Didi Rutin merilis album bertajuk Tanjung Mas Ninggal Janji, Seketan Ewu, Plong (2000), Ketaman Asmoro (2001), Poko'e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu Alas bersama Nunung Alvi (2004) dan Ono Opo (2005).

 

 

 

R24/DEV