Menu

Cerita Sutikno Warga Okura Ubah Ubi Kayu Jadi Dodol, Hak Paten Dijamin Walikota

Ryan Edi Saputra 16 Jun 2020, 15:44
Walikota Pekanbaru saat membuat dodol ubi
Walikota Pekanbaru saat membuat dodol ubi

RIAU24.COM - PEKANBARU - Sutikno, warga Kelurahan Lembah Sari, Kecamatan Rumbai Pesisir, harus gigit jari saat ubi hasil panen di kebunnya tak laku saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Pekanbaru pada 17 April hingga 28 Mei 2020 lalu. Meski begitu, ia tak menyerah dan terinspirasi membuat dodol dari ubi hasil panen tersebut.

Wali Kota Pekanbaru Firdaus saat menyambangi lokasi pembuatan dodol ubi milik Sutikno di Jalan Lingkar Danau Buatan, Kelurahan Lembah Sari, Selasa (16/6/2020), mengatakan, oandemi virus corona ini tak hanya membawa bencana tapi juga manfaat. Kesusahan saat pandemi virus corona menimbulkan kecerdasan. 

"Sebagaimana diceritakan petani bernama Sutikno bahwa panen ubi tidak laku saat penerapan PSBB. Sehingga, beliau mencari inovasi bagaimana ubi ini diolah galamai atau dodol," ujarnya.

Percobaan pertama pembuatan dodol gagal. Percobaan kedua setengah jadi.

Ketiga, masyarakat suka dengan dodol ubi Sutikno. Terakhir, Sutikno mulai memproduksi dodol ubi ini.

"Saya sudah mencicipi. Bahan yang digunakan adalah ubi, kelapa, gula aren, dan sedikit gula pasir. Dodolnya enak dan lembut," puji Firdaus.

Namun, Sutikno masih meminjam peralatan pengolahan ubi dan kuali ke orang lain. Makanya tadi, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Syahmanar Umar agar bantuan bagi kelompok tani diprogramkan dalam APBD Perubahan.

"Supaya, para petani kreatif seperti Sutikno ini bisa dibantu. Tapi, Sutikno juga harus membuat proposal ke dinas agar dapat bantuan," ucap Firdaus.

Produsen makanan tradisonal seperti ini mesti dibimbing. Sehingga, produsen bidang pertanian ini bisa produksi dalam jumlah banyak.

Produknya dikemas lagi agar bermutu. Pembinanya Kadisperindag dan Kadis Koperasi.

"Hak paten juga harus diurus," saran Firdaus.