Sebut Positif Rate Corona Sudah Turun, Pakar Penyebaran Penyakit Ini Kritik Anies Baswedan

Satria Utama
Sabtu, 27 Juni 2020 | 11:52 WIB
Anies Baswedan R24/saut Anies Baswedan

RIAU24.COM -  JAKARTA - Pakar penyebaran penyakit (Epidemiolog) Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, mengkritisi pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mengungkap positif rate di Ibu Kota telah turun menjadi 3,8 persen.

Menurut Tri, Anies terlalu cepat menyimpulkan angka positif rate telah turun jika baru melihatnya di dua hari saja. Semestinya angka penurunan dipantau selama sepekan, baru dapat diambil kesimpulan.

Baca juga: Chandra Liow Tak Terima Mendapat Tuduhan Jadi Pelaku Kekerasan Akan Gelar Press Conference

"Kalau baru dua hari belum bisa dibilang turun. Lihatnya itu angka sepekan. Penurunannya tetap atau tidak," kata Tri saat dihubungi, Jumat, 26 Juni 2020 terkait pernyataan Anies.

Menurut dia, angka kasus penularan virus corona di DKI masih turun naik. Artinya, virus belum bisa dikatakan terkendali. Selain itu, pernyataan Anies yang mengungkap angka reproduksi efektif turun (Rt) dari 0,99 menjadi 0,98 juga harus dikritisi lagi. "Sebab, angka yang diambil itu angka tengah atau rata-rata. Berarti ada rentang di 0,96-1,2," ujarnya.

Menurut Tri, Ibu Kota masih zona merah Covid-19. Untuk itu, ia menyarankan pemerintah untuk terus membatasi pergerakan warga dengan protokol kesehatan yang ketat karena telah memutuskan memasuki masa transisi new normal. "Sebab, Rt 0,98 atau 0,99 itu sebenarnya masih berbahaya. Transmisi lokal masih terus terjadi."

Selain itu, Tri menyarankan pemerintah agar mewajibkan warganya yang keluar menggunakan face shield atau pelindung wajah.

Baca juga: Tak Membahas Terkait KDRT Ternyata Begini Isi Perjanjian Pranikah Lesti Kejora dan Rizky Billar

Sebab, protokol kesehatan umum seperti menggunakan masker, jaga jarak dan cuci tangan tidak cukup dengan kondisi wabah belum terkendali. "Jakarta mengambil risiko melonggarkan, maka kebijakan yang harus dilakukan adalah pengetatat protokol kesehatan kepada warganya," ujarnya.

Epidemiolog Tri juga mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi lonjakan pagebluk ini menjadi dua kali lipat dari yang sekarang terjadi. "Karena outbreak pasti akan terjadi. Kalau misalnya dalam sepekan sekarang 400, nanti bisa menjadi 900 kasus baru."***


Informasi Anda Genggam


Loading...