riau24

Marahnya Bukan Basa-basi, Refly Harun Sebut Para Menteri Jokowi Nilainya di Bawah 6

Siswandi
Selasa, 30 Juni 2020 | 10:28 WIB
Presiden Jokowi memimpi rapat kabinet (Ilustrasi). Foto: int  R24/wan Presiden Jokowi memimpi rapat kabinet (Ilustrasi). Foto: int

RIAU24.COM -  Presiden Joko Widodo sempat marah besar atas kinerja para pembantunya di kabinet di masa pandemi Covid-19. Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara pada 18 Juni 2020 lalu, Jokowi meminta para menterinya bekerja lebih keras lagi untuk masyarakat. Bahkan Jokowi sempat mengultimatum akan melakukan reshuffle kabinet bila itu dibutuhkan.

Terkait hal itu, pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun menilai, kemarahan Presiden Jokowi pada saat rapat kabinet itu bukan sekedar basa-basi, tapi puncak dari kekesalan Presiden atas kinerja para menterinya. Ia melihat, Jokowi merasa kesal karena para pembantunya itu tidak maksimal dalam bekerja. 

Menurutnya,  wajar jika kinerja para menteri tidak berjalan maksimal hingga sejauh ini.  Dalam pandangannya, para menteri yang membantu Jokowi pada periode kedua ini nilai kurang dari angka 6.  




BACA JUGA : Tak Disangka, Hutama Karya Sebut Tol Trans Sumatera tak Layak Secara Finansial

"Memang pada periode kedua Presiden Jokowi ini dibantu para menteri yang nilainya kurang dari 6. Pada periode pertama saja saya mengatakan nilainya 6 saja, dan terbukti dalam perjalanan terjadi reshuffle, artinya kan ada masalah," lontarnya, melalui Channel Youtubenya. 

Dilansir viva, Selasa 30 Juni 2020, Refly mengatakan, sejak awal perumusan kabinet di periode kedua ini, ia mengaku sudah melihat ada kemungkinan Presiden Jokowi akan me-reshuffle kabinetnya di tengah jalan. "Saya melihat, wah, tidak sampai setahun akan ada reshuffle," ujarnya.

Indikasinya, terang Refly, pada perumusan kabinet di periode kedua ini, Presiden seolah didikte oleh partai politik pendukung agar membagi-bagi jatah menteri. Parpol pendukung mengajukan kandidat calon menteri ke Presiden, yang pada akhirnya Presiden tak sanggup menolak karena 'balas jasa' politik.

"Seolah-olah Presiden tidak melakukan sistem pemerintahan presidensil, dimana Presiden punya determinasi untuk memilih para pembantunya sebagai the dream team," tegasnya lagi.

BACA JUGA : Wika Salim Ikut Tren Naik Sepeda, Netizen Langsung Sebut Begini

Refly mengaku khawatir, jangan-jangan ada menteri dari parpol pendukung yang tidak dikenal Presiden Jokowi, baik kiprahnya maupun pribadinya. Hal itu mengingat para menteri yang diusulkan parpol, terkadang adalah 'orang dekat' ketua umum partai.   

"Kalau Presiden tidak punya room, tidak punya ruang, untuk memilih orang-orang terbaik dalam rangka mengimplementasikan program pemerintahannya, jangan harap Jokowi akan mewariskan legacy yang baik pada proses ke depan," ujarnya lagi. ***
 



Informasi Anda Genggam



Loading...