Korut Cabut Lockdown di Perbatasan Dekat Korea Selatan, Kim Jong-un Tetap Tak Mau Terima Bantuan Asing Untuk Banjir

Riki Ariyanto
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 23:03 WIB
Korut Cabut Lockdown di Perbatasan Dekat Korea Selatan, Kim Jong-un Tetap Tak Mau Terima Bantuan Asing (foto/int) R24/riki Korut Cabut Lockdown di Perbatasan Dekat Korea Selatan, Kim Jong-un Tetap Tak Mau Terima Bantuan Asing (foto/int)

RIAU24.COM -  Otoritas Korea Utara (Korut), pada Jumat 13 Agustus 2020, secara resmi mencabut lockdown di Kaesong, Kota dekat perbatasan Korea Selatan (Korsel). Kota itu terdapat ribuan warga Korea Utara yang menjalani karantina usai laporan kasus Covid-19.

Dilansir dari Liputan6, namun pada Kamis, 12 Agustus 2020, Kim Jong-un, Pemimpin Korea Utara menyatalan tetap tidak menerima bantuan dari negara lain terkait penanganan pandemi virus corona atau Covid-19.

Baca juga: Lupa Membayar Pemakaman Keluarga Di Guatemala, Kuburan Akan Digali dan Jasad Diletakkan Di Halaman Rumah



Korean Central News Agency (KCNA) melaporkan Kim Jong-un bakal mengganti perdana menteri Kim Jae-ryong. Hal itu setelah evaluasi kinerja ekonomi Kabinet dengan menunjuk Kim Tok-hun sebagai pengganti.

Sebagai informasi Desember 2019 lalu, Kim Jong-Un menyebut tentang "terobosan frontal" terhadap sanksi internasional. Sambil mendesak warga agar tetap kuat menghadapi sanksi internasional serta kemandirian ekonomi.

Baca juga: Gunung Etna Mengeluarkan Semburan Lava Spektakuler yang Menerangi Langit Sisilia Setiap Malam



Namun sejumlah pakar menyebut krisis pandemi virus corona kemungkinan menggagalkan beberapa tujuan ekonomi utama Kim Jong-un dengan memaksa negara itu melakukan lockdown yang menutup perbatasan dengan China yang merupakan sekutu utama Korut. Apalagi China juga sumber ekonomi dan berpotensi menghambat kemampuannya untuk memobilisasi orang untuk tenaga kerja.

Sejak pertemuan Kamis 12 Agustus, Kim Jong-un menyebut setelah tiga pekan lockdown dan "verifikasi ilmiah", situasi virus di Kaesong stabil. Kim Jong-un menyebut negaranya sekarang menghadapi tantangan ganda untuk melawan virus corona di tengah pandemi yang kian memburuk.

KCNA menyebut ada 39.296 hektare (97.100 hektar) tanaman rusak serta 16.680 rumah dan 630 bangunan umum hancur atau kebanjiran secara nasional. Bahkan laporan banyak jalan, jembatan dan ruas kereta api rusak serta bendungan pembangkit listrik yang jumlahnya tidak ditentukan runtuh. Tidak ada informasi lain mengenai cedera atau yang meninggal dunia.

Kim Jong-un ucapkan simpati pada rakyat yang berada di fasilitas penampungan akibat kehilangan rumah karena banjir. "Situasi, di mana penyebaran virus ganas di seluruh dunia menjadi lebih buruk, mengharuskan kami untuk tidak mengizinkan bantuan dari luar untuk kerusakan akibat banjir tetapi menutup perbatasan lebih ketat dan melakukan pekerjaan anti-epidemi yang ketat," KCNA mengutip Kim Jong-un.


Informasi Anda Genggam


Loading...