Respon Keinginan Prabowo Beli Pesawat Tempur Bekas Miliknya, Menhan Austria Akhirnya Beri Jawaban Seperti Ini

Satria Utama
Selasa, 08 September 2020 | 07:38 WIB
Ilustrasi R24/saut Ilustrasi
Bea Cukai

RIAU24.COM - Keinginan Menteri Pertahanan Indonesia Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo membeli pesawat tempur bekas Eurofighter Typhoon dari Austria akhirnya mendapat respon resmi dari negara tersebut.

Menteri Pertahanan Austria Klaudia Tanner mengirimkan surat resmi kepada Subianto tertanggal 4 September 2020. "Kami dengan senang hati menerima ketertarikan Anda untuk membeli 15 Eurofighter Typhoon untuk memordenisasi armada TNI AU Anda," tulis Tanner seperti dilaporkan oleh Kronen Zetung, Senin (7/9/2020).

Baca juga: Pembunuhan Berantai Ini Jadi yang Paling Kejam Sepanjang Sejarah, Sudah Tahu?

Dalam pemberitaan Kronen Zetung, Tanner menyebut staf militer merekomendasikan agar Pemerintah Austria memanfaatkan opsi penjualan apapun. Menurut Tanner, pemerintah Austria akan mengkaji penjualan dari sisi legal. "Itu adalah tanggung jawab kami kepada semua pembayar pajak," ujarnya.

Keinginan Pemerintah RI membeli 15 Eurofighter Thyphoon telah diketahui sejak Juli. Melalui sebuah surat tertanggal 10 Juli 2020, Prabowo mengutarakan keinginan itu via surat kepada Tanner.

Mengutip newsabc.net, Minggu (19/7/2020), Departemen Pertahanan Austria mengonfirmasi kebenaran surat dari Prabowo. Sayangnya Austria enggan berkomentar lebih jauh mengenai surat yang dimaksud.

Eurofighter Typhoon adalah pesawat tempur yang dibuat oleh konsorsium Airbus, BAE Systems and Leonardo. Austria diketahui membeli pesawat ini pada 2002.

Baca juga: Dikonfirmasi! Cha Eun Woo Akan Bintangi Film Hollywood 'K-Pop: Lost in America'

Namun, ada masalah yang melingkupi. Mengutip Trace Compendium, diduga menaikkan harga pesawat tempur tersebut saat perjanjian kerja sama 17 tahun silam. Kala itu Austria dikabarkan harus merogoh kocek hingga 2 miliar euro untuk memboyong 15 unit pesawat tersebut.

Mengingat pesawat tersebut jarang digunakan, anggarannya terlalu mahal untuk negara sekelas Austria hingga kasus penggelembungan harga oleh Airbus, niatan untuk melego pesawat tempur tersebut menjadi hal yang wajar.***


Informasi Anda Genggam


Loading...