Setelah Sempat Dicabut, Amien Rais dkk Kembali Gugat UU Penanganan Corona

Siswandi
Kamis, 10 September 2020 | 11:52 WIB
Amien Rais R24/wan Amien Rais

RIAU24.COM -  Setelah sempat mencabut, Amien Rais dan kawan-kawan kembali mengajukan permohonan pengujian Undang-undang Nomor 2 Tahun 2020 ke Mahkamah Konstitusi ( MK). Tidak ada perubahan substansi dalam gugatan kali ini, namun ada penambahan gugatan. 

Sesuai keterangan resmi di laman MK RI, gugatan tersebut dimohonkan pada Rabu (9/9/2020). Selain Amien, gugatan itu juga dimohonkan sejumlah pihak, seperti mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia Sri Edi Swasono, hingga Mantan Penasihat KPK, Abdullah Hahemahua. 

Untuk diketahui, UU Nomor 2 Tahun 2020 berisi tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19 dan/atau dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan menjadi Undang-undang. 

Baca juga: Sempat Hadir di Resepsi Atta dan Aurel, Thariq Halilintar Positif Covid-19, Begini Pengakuannya

Terkait hal itu, anggota Tim Kuasa Hukum Amien, Ahmad Yani, mengatakan, gugatan baru itu diajukan karena ada sejumlah nama pemohon yang direvisi. 

"Ada yang beberapa (nama pemohon) di-drop. Ada yang kemarin ikut gugat sekarang sudah enggak ikut gugat," terangnya, dilansir kompas, Kamis 10 September 2020. 

Selain itu, Yani menyebut, dalam gugatan baru pihaknya juga menambahkan pasal yang dipersoalkan. "Substansi enggak beda, hanya kita menambahkan satu pasal lagi yaitu Pasal 6," ujarnya. 

Dalam gugatannya, Amien dkk menyoal UU Nomor 2 Tahun 2020 secara formil dan materil. Dari segi formil, pemohon memandang bahwa UU tersebut bertentangan dengan ketentuan pembentukan peraturan perundang-undangan yang diatur dalam UUD 1945. 

Selain itu, langkah DPR yang menyetujui Perppu itu tanpa melibatkan DPD, dinilai pemohon  bertentangan dengan Pasal 22 D Ayat (2) UUD 1945. Secara materil, pemohon menyoal Pasal 2 Ayat (1) huruf a angka 1, 2 dan 3, Pasal 27, serta Pasal 28. 

Pasal 2 menetapkan batasan defisit anggaran di atas 3 persen PDB tanpa adanya batas maksimal, dan mengikat UU APBN sampai tahun anggaran 2022. Dengan adanya norma ini, UU 2/2020 dianggap menghilangkan fungsi legislasi dan budgeting DPR. 

Pasal tersebut juga dinilai melanggar ketentuan konstitusi yang menyebut bahwa UU APBN bersifat periodik atau harus ditetapkan setiap tahun. 

Baca juga: Sebut Ngabalin Lebih 'Teroris' ketimbang Dirinya, Abdullah Hehamahua Justru Bersyukur

Selanjutnya, pasal yang digugat adalah Pasal 27. Pasal ini secara garis besar mengatur bahwa bahwa pemerintah dan pejabat yang menjalankan kebijakan pemulihan ekonomi tidak dapat dituntut baik secara pidana maupun perdata. 

Dalam hal ini, pemohon menilai pasal tersebut memberikan hak imunitas yang sangat mungkin berkembang menjadi kesewenang-wenangan. Tak hanya itu, pasal ini juga dianggap berpotensi menimbulkan tindak pidana korupsi. 

Sementara, Pasal 28 mengatur mengenai tidak berlakunya 12 UU yang berkaitan dengan kebijakan UU 2/2020. Ke-12 UU itu tetap ada dan berlaku, tapi sebagian ketentuan dalam UU itu tak berlaku sepanjang berkaitan dengan kebijakan penanganan Covid-19. 

Karena hal itu, pemohon menilai pasal ini berpotensi membuat kewenangan presiden absolut dan tak terbatas. 

Terakhir, Pasal 6 Ayat (12) yang mengatur soal pajak diatur oleh peraturan pemerintah. Keberadaan ketentuan tersebut dinilai pemohon menghilangkan hak dan kewenangan DPD dalam memberikan pertimbangan yang berkaitan dengan pajak. 

Dalam petitumnya, Amien Rais dkk meminta supaya MK menyatakan pembentukan UU 2/2020 berikut 4 pasal di dalamnya bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. ***


Informasi Anda Genggam


Loading...