Imbas Pandemi, Ribuan Petani Kopi Menjerit Karena Rendahnya Permintaan

Devi
Sabtu, 26 September 2020 | 10:36 WIB
Imbas Pandemi, Ribuan Petani Kopi Menjerit Karena Rendahnya Permintaan R24/dev Imbas Pandemi, Ribuan Petani Kopi Menjerit Karena Rendahnya Permintaan

RIAU24.COM - Produsen dan petani kopi Indonesia menyerukan dukungan, termasuk pembiayaan dan penyerapan produk, untuk mengatasi efek pandemi yang mengerikan pada permintaan kopi di hulu. Rahmah dari Koperasi Ketiara Aceh Tengah, Rabu, mengatakan sekitar 400 ton kopi disimpan di reso gudang, 150 ton di antaranya belum terjual. Resi gudang adalah sistem pembiayaan yang memungkinkan petani kecil untuk menyimpan hasil panen mereka di gudang sebagai jaminan pinjaman, dengan imbalan tanda terima.

“Petani sudah berjuang. Mereka mau jual tapi harga yang ditawarkan rendah, ”kata Rahmah dalam webinar yang diselenggarakan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM). “Eksportir juga mengalami kesulitan. Mereka ingin mengekspor, tapi tidak ada pembeli. ”

Baca juga: Turun Lagi, Harga Emas Hari ini di Jual Rp 1.007.000/Gram, Ini Rinciannya

Hendarman, anggota Koperasi Tani Indonesia (KPI) Bengkulu, menggemakan sentimen tersebut, menyoroti kebutuhan mendesak akan dukungan keuangan. “Bagian paling krusial adalah hulu [porsi industri]. Harus ada lembaga pembiayaan yang berfungsi sebagai off taker sehingga ada jaminan penyerapan produk kopi yang dihasilkan, ”ujarnya.

Indonesia, produsen kopi terbesar keempat di dunia, mengalami kontrak belanja rumah tangga sebesar 5,51 persen tahun ke tahun (yoy) pada kuartal kedua tahun ini karena ekonomi menyusut sebesar 5,32 persen yoy, data Statistik Indonesia (BPS) menunjukkan. Pengeluaran rumah tangga yang lebih rendah telah memengaruhi konsumsi kopi.

Namun, meski terjadi pandemi, data Organisasi Kopi Internasional (ICO) menunjukkan bahwa ekspor kopi Indonesia tumbuh 1,1 persen year-on-year (yoy) menjadi 668.000 kantong 60 kilogram pada Juli tahun ini. Statistik, bagaimanapun, belum mewakili gangguan yang dialami dalam rantai pasokan kopi negara, karena pejabat pemerintah telah mengakui kebutuhan untuk membiayai industri kopi lokal dengan lebih baik selama gangguan tersebut.

“Presiden sudah menginstruksikan saya untuk mencari cara untuk menyerap produk pertanian ini, karena belum sepenuhnya terserap oleh pasar domestik dan ekspor,” kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam webinar tersebut.

Baca juga: Krisis COVID-19 Mempercepat Menipisnya Jaminan Sosial di Amerika Serikat, Jutaan Orang Diprediksi Akan Hidup Dalam Kemiskinan

Kementerian sedang mempersiapkan berbagai skema pembiayaan untuk mempercepat penyerapan, termasuk pembiayaan untuk koperasi yang mengumpulkan kopi dan menghubungkannya dengan off-takers. Skema tersebut telah didukung oleh penjabat Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

“Perlu ada dukungan bagi koperasi yang mengekspor kopi dalam bentuk pembiayaan murah untuk meningkatkan daya beli mereka saat musim panen,” kata Nova.

Ia menambahkan, 70 persen panen kopi di Aceh akan terjadi antara akhir September tahun ini hingga Januari 2021. Diperkirakan akan ada 52.000 ton biji kopi yang akan dipanen selama periode tersebut. Organisasi pembiayaan telah membantu meringankan beban pembiayaan petani kopi dan koperasi.

Direktur usaha kecil, ritel, dan menengah Bank Rakyat Indonesia (BRI) Priyastomo mengatakan bank tersebut telah mendukung industri kopi dalam negeri, antara lain melalui skema subsidi resi gudang. Bank menawarkan bunga 6 persen kepada petani, asosiasi petani dan koperasi yang menggunakan sistem resi gudang sebagai jaminan.

Tambahan bunga 5,25 persen disubsidi oleh pemerintah. “Resi gudang merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk mendukung kelangsungan produksi dan keberlanjutan dari sisi harga hasil pertanian,” kata Priyastomo. Dia menambahkan, bank telah menyalurkan Rp 266 miliar (US $ 17,9 juta) untuk industri kopi, termasuk Rp 40,9 miliar dalam skema subsidi resi gudang.


Bisnis

Informasi Anda Genggam



Loading...