Charta Sebut Efek Jokowi di Kemenangan Bobby dan Gibran

Riko
Kamis, 10 Desember 2020 | 10:28 WIB
Foto (internet) R24/riko Foto (internet)

RIAU24.COM - Peneliti Charta Politika Indonesia Ardha Ranadireksa menilai perolehan suara terbanyak sementara berdasarkan hasil hitung cepat atau quick count yang terjadi di Kota Medan dan Kota Solo tak lain terjadi karena 'bayang' Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dalam Pilkada Serentak 2020 ini, putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka maju sebagai calon wali kota Solo. Sementara menantu Jokowi, Bobby Nasution, maju sebagai calon wali kota Medan.

Baca juga: Ustaz Zacky Mirza Tiba-tiba Jatuh Pingsan Saat Ceramah di Pekanbaru, Begini Kondisinya Saat Ini

"Unggul suara Bobby salah satunya terjadi karena popularitas sudah tidak jadi problem utama. Bobby dengan segala pro-kontranya seperti tudingan dinasti politik, tapi segi itu malah menaikkan sosialisasi dan memberikan pengenalan dia kepada masyarakat," kata Ardha dikutip dari CNNIndonesia. Rabu 9 Desember 2020.

Ardha pun memaparkan syarat paslon mendapatkan kemenangan ada tiga faktor, yakni popularitas, tingkat kesukaan masyarakat, dan elektabilitas. Dalam kasus Pilkada Kota Medan, elektabilitas Bobby mulai merangkak naik usai beberapa kebijakan Akhyar selama menjabat sebagai wali kota dinilai belum mampu memenuhi ekspektasi publik.

"Dari beberapa survei Charta Politika, memang Akhyar Nasution kinerjanya tidak dinilai bagus, artinya setengah-setengah. Sangat disayangkan dalam menuju hari-H, terjadi banjir di Medan saya pikir itu punya andil elektabilitas angka kecewa dengan Akhyar," jelasnya.

Pasangan Bobby-Aulia memperoleh 55,29 persen, sementara Akhyar-Salman mengantongi 44,71 persen. 

Ini merupakan kali pertama mantu Presiden Joko Widodo itu terjun ke politik praktis. 

Selain itu, Ardha menilai persentase tingkat partisipasi masyarakat Kota Medan cukup rendah setiap pelaksanaan Pilkada. Ditambah pandemi virus corona (covid-19) yang terjadi menurutnya semakin menambah berkurangnya partisipasi warga Kota Medan.

"Tingkat partisipasi politik di Medan rendah, sejauh data Charta Politika memang rendah sekali. Kalau saya melihat sekitar di bawah 50 persen hari ini," jelas Ardha.

Sementara itu, Ardha menyebut dinamika politik Solo hampir mirip dengan yang terjadi Kota Medan. Kedua kota ini, lanjut Ardha, tak bisa lepas dengan 'bayang' Presiden Jokowi. Kendati demikian, lanjut Ardha, langkah Gibran untuk maju sebagai orang nomor satu di Solo lebih sulit daripada Bobby.

Gibran, kata Ardha, harus berupaya mengalahkan bayangan dan kinerja ayahnya serta Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo. Sehingga, kemenangan sementara Gibran berdasarkan quick count, menurutnya juga tak lepas dari harapan publik yang berharap Gibran mampu meniru jejak Jokowi semasa memimpin Kota Solo selama dua tahun dengan tingkat kepuasan publik mencapai 92 persen saat itu.

"Tentunya memang kalau Gibran-Bobby hal serupa tapi tak sama. Sama-sama ada keterkaitan dengan Presiden Jokowi, tapi memang di Solo kebetulan ada Jokowi sendiri sebagai Wali Kota Solo saat itu selama 2 periode," kata Ardha.

Ardha pun mengungkapkan bila Gibran dipastikan menang, maka dia harus menanggung PR besar. Sebab preseden pemimpin di Solo dalam dua kepemimpinan terakhir, baik Jokowi maupun FX Rudi sejauh ini dinilai baik.

"Artinya 92 persen, Gibran harus setidaknya menjaga itu, itu parameternya. Gibran yang dibenahi hanya tinggal sedikit, sementara 92 persen harus dia pertahankan," kata dia.

Selain popularitas Gibran yang berhubungan erat dengan Presiden Jokowi. Gibran juga berhasil menggandeng Anggota DPRD Solo Teguh Prakosa, sekaligus diusung oleh PDI Perjuangan dan mendapat dukungan dari lima partai besar lainnya yaitu Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Berangkat dari hal itu Gibran-Teguh setidaknya selangkah lebih maju dibandingkan rivalnya Bagyo Wahyono-FX Supardjo (BaJo) yang maju sebagai paslon independen atau tanpa usungan partai politik.

Bajo pun berhasil mendaftar setelah sedikitnya 10 ribu surat dukungan BaJo telah dinyatakan memenuhi syarat setelah melalui proses verifikasi faktual oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Solo pada beberapa waktu lalu.

"Terus terang untuk kondisi kita independen cukup berat karena dia harus dikenal seluruh rakyat," ujar Ardha.

Oleh sebab itu, Ardha menilai, posisi Gibran semakin diuntungkan dengan kondisi BaJo itu. Sebab, BaJo keduanya datang dari masyarakat biasa yang belum banyak dikenal masyarakat atau menjadi tokoh sentral di masyarakat Kota Solo.

"Kami ada beberapa survei, di Solo itu memang sangat jauh dari awal ketika ada nama Gibran kemudian BaJo sangat jomplang sekali," pungkas Ardha.

Baca juga: Diprotes Keras, Tokoh Pendiri NU 'Hilang' dari Kamus Sejarah Indonesia, Kementerian Dikbud Jawab Begini

Dalam kontestasi politik kali ini, Bobby-Aulia unggul berdasarkan hasil quick count Charta Politik dengan suara masuk sebesar 100 persen pada pukul 18.43 WIB. Bobby-Aulia berhasil menyabet suara tertinggi sebanyak 55,29 persen, sementara petahana Akhyar-Salman memperoleh 44,71 persen suara.

Sedangkan, Kakak ipar Bobby, Berdasarkan hitung cepat Charta Politika dengan suara masuk 100 persen, Gibran-Teguh Prakosa mengantongi 87,15 persen, sementara lawannya BaJo mendapat 12,85 persen suara.

 


Informasi Anda Genggam


Loading...