Mutasi Covid-19 Menyebar, Dunia Tutup Pergerakan orang Inggris

Riko
Selasa, 22 Desember 2020 | 10:13 WIB
foto: net R24/riko foto: net

RIAU24.COM -  Berbagai negara di dunia menutup pergerakan orang dari Inggris . Langkah tegas ini diambil menyusul ditemukannya mutasi virus corona Covid-19 yang menyebar sangat cepat sejak akhir pekan lalu.

Pemerintah Inggris menyatakan penyebaran tersebut di luar kendali dan meminta warganya untuk diam di rumah, kecuali darurat dan penting.

Baca juga: Kakak Beradik Ini Menemukan Tubuh Orang Asing di Dalam Peti Mati Ibu Mereka Karena Kekacauan Rumah Pemakaman

Hingga kemarin tercatat Prancis, Jerman, Irlandia, Belgia, Italia, Bulgaria, Finlandia, dan Denmark menjadi negara Eropa yang melarang arus perjalanan dari Inggris dengan durasi yang berbeda-beda. Di luar Eropa, sejumlah negara Amerika, Afrika, dan Asia juga mengambil langkah serupa, termasuk Bali, Indonesia, dan Arab Saudi.

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson merespons situasi ini dengan menggelar pertemuan darurat COBRA untuk mendiskusikan kesehatan dan ekonomi negara menyusul dikucilkannya Inggris dari dunia internasional. Apalagi, negara seperti Prancis juga melarang pengiriman barang melalui darat, air, udara, dan rel. 

"Hanya barang-barang yang dikirim tanpa pendamping yang akan diperbolehkan masuk ke Prancis. Tapi, arus pergerakan orang dan barang dari Prancis menuju Inggris tidak akan terpengaruh," ujar pemerintah Prancis, dikutip Sindonews dari Euro News. Meski demikian, situasinya menjadi kacau. Ribuan truk kini terdampar di perbatasan.

Pelabuhan Dover juga menyatakan semua terminalnya ditutup sehingga tidak ada perahu yang diperbolehkan masuk atau keluar sampai pemberitahuan selanjutnya dari pemerintah. Kereta Eurostar jurusan London-Paris, London-Lille, London-Brussels, dan London-Amsterdam juga batal beroperasi pekan ini.

PM Belgia, Alexander De Croo, mengatakan larangan kunjungan ini diambil sebagai langkah pencegahan. Dia berharap Inggris dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dapat memberikan keterangan lebih detail terkait virus korona baru itu. Pernyataan serupa juga diungkapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Belanda.

"Mutasi virus Covid-19 bersirkulasi di Inggris. Berdasarkan laporan awal, virus itu lebih mudah dan lebih cepat menyebar serta lebih sulit dideteksi," ungkap Kemenkes Belanda. "Karena itu, kami berupaya mencegah penyebaran virus baru itu dengan membatasi atau mengendalikan pergerakan orang dari Inggris."

Italia menjadi negara Eropa yang menerapkan larangan kunjungan terpanjang dari Inggris. Maklum, Italia pernah menjadi pusat wabah Covid-19 pada awal-pertengahan tahun ini. Apalagi, seorang pasien yang baru pulang dari Inggris kini ditemukan terinfeksi mutasi Covid-19. Namun, kondisinya tidak diketahui.

"Saya telah menandatangani dekrit baru yang melarang penerbangan dari Inggris selama 14 hari, termasuk warga Italia yang ada di sana," ujar Menkes Italia, Roberto Speranza. Pemerintah Austria, Swedia, Romania, Finlandia, Denmark, dan Bulgaria juga mengambil keputusan serupa sebagai langkah antisipasi.

Negara di luar Eropa juga memutuskan untuk melarang pergerakan orang dari Inggris. PM Kanada, Justin Trudeau, mengatakan pembatasan itu berlaku selama 72 jam sejak Minggu (20/12/2020). "Penerbangan dari Inggris yang akan memasuki Kanada akan ditolak. Pengunjung yang terlanjur masuk akan dites," kata Trudeau.

Arab Saudi juga telah menutup perbatasan dan membatasi penerbangan internasional, terutama dari Inggris, selama tujuh hari. Larangan ini dapat diperpanjang menyesuaikan situasi. Semua orang yang tiba di Arab Saudi beberapa hari sebelum peraturan ini berlaku harus menjalani isolasi mandiri selama dua pekan.

Baca juga: Lakukan Percobaan Bunuh Diri hingga Diamputasi, Pria Ini Ceritakan Kisah Harunya Saat masih Remaja

Sebagai informasil jumlah pasien Covid-19 di Inggris bertambah sebanyak 35.928 orang pada Minggu (20/12), hampir dua kali lipat dibandingkan tujuh hari sebelumnya. Pada saat bersamaan, sebanyak 326 orang meninggal dunia dalam 28 hari terakhir setelah positif terinfeksi Covid-19. Dengan demikian, total korban sekitar 67.401.

 


Informasi Anda Genggam


Loading...