Menteri Agama Gus Yaqut Tidak Ingin Populisme Islam Berkembang Luas

Riko
Minggu, 27 Desember 2020 | 18:55 WIB
Yaqut Cholil Qoumas (net) R24/riko Yaqut Cholil Qoumas (net)

RIAU24.COM -  Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas tak ingin populisme agama Islam merebak di Indonesia. Ia juga tak menghendaki kelompok yang mengatasnamakan Islam menggiring nilai agama menjadi norma konflik.

Baca juga: Terjangkit COVID-19 Untuk Kedua Kali, Komika Pandji Pragiwaksono: Gak Ada Gejala, Enggak Demam

"Belakangan kita merasakan ada yang berusaha menggiring agama menjadi norma konflik. Agama dijadikan norma konflik itu dalam bahas ekstremnya, siapapun yang berbeda keyakinanannya, maka dia dianggap musuh dan karenanya harus diperangi. Istilah kerennya itu populisme islam," ujar Gus Yaqut dalam sebuah acara webinar lintas agama, mengutip dari Tempo.co. Minggu. 27 Desember 2020.

"Dan saya tidak ingin, kita semua, tentu saja tidak ingin populisme islam ini berkembang luas sehingga kita kewalahan memeranginya," lanjut Ketua GP Ansor ini.

Untuk itu, kata Yaqut, dalam pidato pertamanya sebagai Menteri Agama, ia mengajak seluruh rakyat Indonesia menjadikan agama sebagai sumber inspirasi dan bukan aspirasi. "Karena aspirasi agama ini, kalau salah-salah orang bisa berbahaya," ujar Yaqut.

"Dan saya tidak ingin, kita semua, tentu saja tidak ingin populisme islam ini berkembang luas sehingga kita kewalahan memeranginya," lanjut Ketua GP Ansor ini.

Untuk itu, kata Yaqut, dalam pidato pertamanya sebagai Menteri Agama, ia mengajak seluruh rakyat Indonesia menjadikan agama sebagai sumber inspirasi dan bukan aspirasi. 

"Karena aspirasi agama ini, kalau salah-salah orang bisa berbahaya," ujar Yaqut.

Baca juga: Viral Foto e-KTP Hesti Purwadinata, Netizen Langsung Bilang Ini

Sebagai Ketua GP Ansor sebelumnya, kata Yaqut, ia berkali-kali selalu mengatakan bahwa tidak ada Indonesia jika tidak ada Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu dan agama lokal lain. Bangsa Indonesia, lanjut dia, berdiri sebagai kesepakatan antar kultur, antar budaya dan antar agama.

"Jadi, barangsiapa ingin menghilangkan satu sama lain atas dasar agama, maka artinya mereka tidak mengakui Indonesia, mereka tidak memiliki rasa ke-Indonesiaan," tuturnya.

 


Informasi Anda Genggam


Loading...