Ragam Warna Mata Uang Asing Nusantara di Abad ke-16

Azhar
Selasa, 16 Februari 2021 | 21:58 WIB
Pedagang abad ke-15. Foto: Internet R24/azhar Pedagang abad ke-15. Foto: Internet

RIAU24.COM -   Indonesia yang dikenal kaya dengan rempah-rempahnya di abad 16-18 menarik minat pedagang dunia.

Mereka berbondong-bondong membeli rempah hasil petani.

Disaat itu juga kesempatan pedagang luar untuk menukarkan mata uang mereka dengan rempah asal Indonesia dikutip dari historia.id, Selasa, 16 Februari 2021.

Baca juga: Maia Estianty Punya Suami yang Tak Ingin Miliki Momongan darinya, Kenapa?

Pedagan itu biasanya berasal dari India, Tiongkok, Burma, Arab, Persia, Turki, dan Eropa.

Untuk yang pertama adalah pedagang Tiongkok. Merka biasanya membawa mata uang chien dan caixa.

Chien terbuat dari tembaga, sedangkan caixa berasal dari timah hitam. Dua mata uang ini beredar secara luas di kawasan Asia Tenggara.

Setelah mata uang Tiongkok, dilanjutkan dengan real Belanda.

Mata uang ini dibawa oleh para pedagang Belanda dalam Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC). Mata uang ini terbuat dari perak. Kemudian menyusul cruzado dan berasal dari pedagang Portugis yang tersebar luas di Maluku.

Pedagang dari Spanyol juga tak mau kalah dengan dua rivalnya. Mereka mengedarkan mata uang real dan piaster Spanyol.

Baca juga: Heboh Medsos, Ayah Emil Audero Tanggapi Kabar Naturalisasi Anaknya Untuk Timnas Indonesia

Sementara pedagang Inggris meramaikan peredaran mata uang asing di Nusantara dengan memperkenalkan mata uang EIC.

Lalu diikuti dengan mata uang dari Arab dan Persia. Mata uang Arab bernama dinar dan dirham, sedangkan mata uang Persia disebut larrins.


Rempah Nusantara
Informasi Anda Genggam


Loading...