Ditangkap, Ditahan, Hingga Dipukuli, Nasib Tenaga Kesehatan Myanmar Dibawah Kuasa Militer

Azhar
Selasa, 27 April 2021 | 11:29 WIB
Para dokter, perawat, dan para tenaga kesehatan lainnya turut dalam aksi unjuk rasa menentang junta militer Myanmar. Foto: bbc.com/GETTY IMAGES R24/azhar Para dokter, perawat, dan para tenaga kesehatan lainnya turut dalam aksi unjuk rasa menentang junta militer Myanmar. Foto: bbc.com/GETTY IMAGES

RIAU24.COM -  Sistem layanan kesehatan adalah salah satu sektor paling terdampak parah pascakudeta yang dilakukan oleh Militer Myanmar pada 1 Februari 2021.

Saat itu militer mengambil alih kekuasaan yang kemudian ditanggapi sebagian rakyat dengan menggelar rangkaian demonstrasi.

Para peserta aksi-aksi tersebut beragam, termasuk yang dilakukan oleh ribuan dokter dikutip dari bbc.com, Selasa, 27 April 2021.

Mereka dan sejumlah pegawai negeri sipil turut ambil bagian dalam gerakan pembangkangan sipil, yaitu mogok bekerja di bawah junta militer.

Baca juga: Miris, YouTuber Lydia Squid Gaming Dianggap Plagiat Nama Drama Squid Game

Termasuk ribuan dokter ambil bagian dalam mogok nasional di tengah pandemi global. Tak hanya itu, mereka juga kerap menawarkan pemeriksaan gratis di rumah sakit swasta.

Akibat kondisi ini, militer mengincar para tenaga kesehatan yang mogok dengan menggerebek fasilitas medis gratis.

Mereka menangkap, menahan, dan dalam beberapa kasus, memukuli para tenaga kesehatan.

Baca juga: Masyarakat Ajukan BTS Bebas Wamil, Pejabat Militer: Perlu Tinjauan Cermat

Tujuannya agar para dokter mau kembali untuk bertugas bersama militer.

Baru-baru ini militer bahkan meminta pejabat senior rumah sakit-rumah sakit besar untuk turun tangan. Namun hasilnya nihil.


Kudeta Myanmar
Informasi Anda Genggam


Loading...