Ketika Aksi Memasung Para Penyandang Cacat Meningkat Di Tengah Pandemi

Amerita
Minggu, 09 Mei 2021 | 09:40 WIB
Foto : Tempo R24/ame Foto : Tempo
<p>RIAU24.COM -  Kementerian Kesehatan Indonesia mengumumkan bahwa kasus pasung penyandang disabilitas di negara tersebut telah meningkat sebesar 20 persen selama pandemi Covid-19. Pemerintah saat ini mendaftarkan 5.200 penyandang disabilitas yang dibelenggu (atau biasa dikenal dengan istilah 'pasung').

Kondisi seperti itu terus terjadi meskipun pemerintah Indonesia telah memberlakukan program yang secara efektif melarang praktek keji dan tidak manusiawi yang disebut program 'bebas dari pasung'.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Kesehatan Mental dan NAPZA Kementerian Kesehatan, Siti Khalimah, mengatakan bahwa pandemi Covid-19 dan praktik belenggu yang berkembang terkait satu sama lain.

Baca juga: Eks Pebulutangkis Nasional Peraih Medali Emas Olimpiade Beijing 2008 Meninggal Dunia, Diduga Alami Serangan Jantung

Khalimah memberikan satu contoh di Nusa Tenggara Timur di mana seorang penyandang disabilitas mental tinggal bersama istrinya dan di tengah pandemi menghadirkan situasi di mana orang tersebut akan kambuh dan mulai menganiaya istrinya secara fisik, yang lebih sering terjadi.

“Dia sering memukuli istrinya sehingga memaksa mereka untuk membelenggu orang tersebut,” kata Siti Khalimah dalam konferensi online bertajuk 'Perlindungan dan Pencegahan Penyiksaan dan Hukuman Tidak Manusiawi bagi Penyandang Cacat Jiwa'

Dia juga mencatat bahwa peningkatan kasus berulang yang berasal dari penyandang disabilitas mental selama pandemi juga disebabkan oleh keterbatasan sosial dan mencatat bahwa pembatasan pemerintah yang diberlakukan selama pandemi Covid-19 telah meningkatkan tekanan bagi penyandang disabilitas.

Baca juga: Tegas! Sri Mulyani Pastikan Sembako yang Dijual di Pasar Ini Tak Kena Pajak

Mereka juga menghadapi kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan meskipun ada 4.400 layanan kesehatan di seluruh Indonesia yang menyediakan konsultasi psikiatri. Namun demikian, masih ada 5 provinsi yang belum memiliki RS Jiwa.

“Masalah kesehatan Indonesia belum menjadi prioritas. Budayanya masih terkonsentrasi di rumah sakit jiwa, terutama di kota-kota besar,” kata Siti Khalimah.


Pasung Indonesia
Informasi Anda Genggam


Loading...