Senjata Biologis Dibuat, Kelinci Percobaanya diambil dari Orang-Orang China

Azhar
Sabtu, 15 Mei 2021 | 21:17 WIB
Ilustrasi Unit 731 milik Jepang. Foto: Internet R24/azhar Ilustrasi Unit 731 milik Jepang. Foto: Internet

RIAU24.COM - Kemenangan di Perang Dunia (PD) I bagi prajurit-prajurit Jepang menjadi momok yang menakutkan bagi negara tetangganya, China.

Hal itu karena Jepang begitu berambisi menjadi negara terkuat di Asia, dikutip dari historia.id, Sabtu, 15 Mei 2021.

Termasuk menggunakan segala cara seperti membentuk unit penelitian senjata biologis: Unit Manchuria No. 731 atau Unit 731.

Unit ini merupakan sebuah kesatuan dalam militer kekaisaran yang disiapkan untuk membuat senjata pemusnah dan menjadi pendukung kekuatan tempur utama.

Baca juga: Presiden Israel dan Erdogan Minum Kopi: Untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Unit itu turut menyumbang peran menghantarkan Jepang ke panggung utama PD II di Asia Pasifik pada 1939 sampai 1945.

Sayang, korban percobaan unit biologis ini sangat banyak. Yang terparah terjadi di negara tetangganya, Cina. Mereka melakukan perbudakan, pembantaian, eksploitasi budak seks.

Namun percobaan senjata, beramunisi makhluk-makhluk mikrobiologis, terhadap manusia oleh Unit 731 disebut menjadi yang terparah.

Demi menjaga kerahasiaan penelitian yang dilakukan unit itu, pemerintah Jepang melakukan penyamaran. Unit 731 adalah melakukan eksperimen medis terhadap manusia.

Sejumlah praktik medis terlarang seperti pemberian virus dan bakteri serta obat-obatan diujicobakan kepada korban-korbannya.

Para peneliti di sini juga dijaga dengan sangat ketat. Mereka tidak berhubungan langsung dengan pertempuran secara fisik.

Baca juga: Bebatuan Besar Jatuh Hantam Jembatan, 9 Turis Tewas di India

Pria, wanita, dan anak-anak dari berbagai daerah di bawa untuk kemudian digunakan sebagai bahan eksperimen, bahkan bayi-bayi yang lahir di dalam tahanan Unit 731 tampaknya juga tidak selamat.

Kisah yang paling terkenal dari kekejaman unit ini adalah para dokternya yang melakukan pembedahan kepada para korban dalam kondisi sadar dan tanpa obat pereda nyeri.

Sayangnya, rakyat Jepang tidak menerima kenyataan atas tindakan tak manusiawi dari unit ini. Bahkan hampir tidak ada masyarakat Jepang yang menyinggung persoalan itu.


Informasi Anda Genggam


Loading...