Tamaknya Penjajah Belanda, Dari yang Aneh Sampai Receh Semua Kena Pajak

Azhar
Sabtu, 19 Juni 2021 | 21:53 WIB
Ilustrasi. Foto: Internet R24/azhar Ilustrasi. Foto: Internet

RIAU24.COM -  Sejarawan Universitas Gadjah Mada Abdul Wahid menyebutkan jika Belanda merupakan penjajah yang teramat rakus.

Bentuk kerakusan itu terlihat dari sektor pajak yang mereka terapkan terhadap pribumi dan WNA yang bermukim di tanah jajahannya.

"Negara kolonial itu sangat rakus. Jadi dia di mana melihat sebuah aktivitas ekonomi yang bernilai tinggi, maka dipajaki," ujarnya dikutip dari historia.id, Sabtu, 19 Juni 2021.

Baca juga: Usai Demo Tolak Pemecatan 57 Pegawai KPK, Sejumlah Mahasiswa Alami Teror Daring dan Aplikasi Percakapan Diretas

Dimulai dari penerapan pajak tanah dan tenaga kerja yang mengikut dari kerajaan terdahulu. Kemudian berkembang menjadi cultuurstelsel atau sistem tanam paksa yang dipelopori Van den Bosch.

Kemudian Thomas Stamford Raffles memperkenalkan sistem land rent atau sewa tanah. Meski berdalih sewa, land rent sebenarnya sama juga dengan pajak tanah.

Lambat laun, sistem pajak tanah menimbulkan manipulasi oleh para elite.

Kemudian pada abad ke 19 bermacam-macam pajak muncul seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi. Seperti misalnya pajak konsumsi opium, pajak tembakau hingga pajak penyembelihan hewan.

Yang paling tak masuk akal adalah kleine verpachte middelen atau pajak-pajak kecil.

Baca juga: Tante Ernie: Doyan Makan Cita-cita Kurus, Netizen Balas Begini

Pajak-pajak kecil ini dikenakan pada beragam komoditas hingga pekerjaan menghasilkan uang. Diperkirakan ada 15 atau 16 objek dikenakan pajak di Pulau Jawa saat itu.

Sektor itu seperti pegadaian, pembuatan garam, ikan, minuman keras, judi, hingga pertunjukan wayang. Jumlahnya meningkat pada awal abad ke-20 hingga kemunculan pajak penghasilan.


Informasi Anda Genggam


Loading...