Ketika Pendiri Kerajaan Majapahit Pernah Menghindar Lari Dari Kejaran Pasukan Seperti Ini

Azhar
Senin, 21 Juni 2021 | 07:02 WIB
Ilustrasi. Foto: Internet R24/azhar Ilustrasi. Foto: Internet

RIAU24.COM -  Raden Wijaya yang merupakan pendiri kerajaan Majapahit disebutkan pernah memiliki pengalaman buruk.

Kejadian itu dikisahkan dalam kitab Negarakretagama dan buku karya Slamet Muljana 1979, dikutip dari okezone.com, Senin, 21 Juni 2021.

Pengalaman buruk Wijaya itu ketika dirinya digempur oleh pasukan pemberontak. Bersama pengikut setia yang masih tersisa, Raden Wijaya melarikan diri ke dalam hutan rimba di sekitar aliran Sungai Brantas.

Ia kabur bersama pengawalnya seperti Nambi, Kebo (Mahisa) Anabrang, Lembu Sora, dan Dharmaputra seperti Ra Kuti Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng,dll.

Semua bermula ketika Raden Wijaya mewarisi takhta Kerajaan Sunda Galuh dan memilih mengabdi ke tempat asal ibundanya, yakni Kerajaan Singasari pada era pemerintahan Raja Kertanegara.

Baca juga: Ernest Prakasa Beri Ide Hukuman yang Pantas untuk Bupati Langkat: Dikerangkeng Berdua sama Yayan Ruhian

Seiring perjalanannya waktu, pada tahun 1292 M, terjadi pemberontakan terhadap Kerajaan Singasari oleh Bupati Gelang-gelang, Jayakatwang. Ketika itu Jayakatwang mengirim pasukan bernama Jaran Guyang untuk menyerbu Singasari dari arah utara.

Raja Kertanegara yang mendengar rencana itu segera memerintahkan menantunya, Raden Wijaya untuk memimpin pasukan Singasari guna menangkal serangan pasukan Jayakatwang.

Ternyata, pergerakan Jaran Guyang hanya taktik Jayakatwang. Raden Wijaya berhasil mengalahkan pasukan Jaran Guyang. Namun, Jaran Guyang ternyata hanya pasukan kecil yang dikirim sebagai pengalihan agar pertahanan di ibu kota Singasari kosong.

Setelah itu Jayakatwang mengirimkan pasukan yang jauh lebih besar ke Singasari. Sementara itu, sebagian besar kekuatan militer Singasari yang dipimpin Raden Wijaya belum kembali.

Pasukan Jayakatwang berhasil menduduki istana, bahkan Raja Kertanegara terbunuh. Kondisi ini membuat pasukan pimpinan Raden Wijaya tercerai-belai setelah mengetahui Singasari jatuh dan Kertanegara tewas.

Langsung saja Raden Wijaya melarikan diri guna berlindung ke Terung di sebelah utara Singhasari. Namun karena terus dikejar-kejar pasukan Kedori, lalu ia memilih pergi ke arah timur.

Dengan bantuan kepala desa Kudadu, ia berhasil menyeberangi Selat Madura untuk bertemu Arya Wiraraja penguasa Songeneb atau Sumenep. Bersama Arya Wiraraja, Raden Wijaya merencanakan siasat untuk merebut kembali takhta dari tangan Jayakatwang.

Wijaya berjanji, jika ia berhasil mengalahkan Jayakatwang, maka daerah kekuasaannya akan dibagi dua untuk dirinya dan Wiraraja. Rencana pun dimulai. Awalnya Wiraraja menyampaikan berita kepada Jayakatwang bahwa Wijaya menyatakan menyerah kalah.

Jayakatwang yang telah membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu kerajaan Kadiri menerimanya. Ia kemudian mengirim utusan untuk menjemput Wijaya di pelabuhan Jungbiru.

Setelah itu Raden Wijaya meminta Hutan Tarik di sebelah timur Kadiri untuk dibangun sebagai kawasan wisata perburuan. Dia mengaku ingin tinggal di sana.

Mendengar permintaan itu Wiraraja mengirim orang-orang Songeneb untuk membantu Wijaya membuka hutan tersebut.

Salah seorang pekerja asal Madura menemukan buah maja yang rasanya pahit. Lambat laun desa pemukiman yang didirikan Wijaya diberi nama Majapahit.

Pada kesempatan berbeda, Dinasti Yuan tahun 1293 mendaratkan 20 ribu pasukan Mongol dipimpin Ike Mase di pulau Jawa. Tujuannya untuk memberikan pelajaran kepada Kertanegara, karena pada tahun 1289 kerajaan ini telah melukai utusan yang dikirim Kubhilai Khan, raja Mongol.

Mengetahui hal ini Raden Wijaya memanfaatkan pasukan Mongol untuk menghancurkan Jayakatwang.

Caranya dengan mengajak Ike Mese untuk bekerjasama. Wijaya meminta bantuan untuk merebut kembali kekuasaan Pulau Jawa dari tangan Jayakatwang, dan setelah itu baru ia bersedia menyatakan tunduk kepada bangsa Mongol.

Jayakatwang yang mendengar persekutuan Wijaya dan Ike Mese segera mengirim pasukan Kadiri untuk menghancurkan mereka.

Namun pasukan itu justru berhasil dikalahkan oleh pihak Mongol. Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit serta Madura bergerak menyerang Daha, ibu kota Kerajaan Kadiri.

Baca juga: Rumah-rumah Terbakar Akibat Kerusuhan di Pulau Haruku Maluku Tengah, Netizen: Ngeri ya Tinggal Disana

Jayakatwang akhirnya menyerah dan ditawan dalam kapal Mongol. Setelah Jayakatwang dikalahkan, Wijaya meminta izin untuk kembali ke Majapahit mempersiapkan penyerahan dirinya.

Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Majapahit, Wijaya membunuh para prajurit Mongol yang mengawalnya. Ia kemudian memimpin serangan balik ke arah Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan.

Serangan mendadak itu membuat Ike Mese kehilangan banyak prajurit dan terpaksa menarik mundur pasukannya meninggalkan Jawa.

Setelah mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya menyerang balik pasukan Mongol dan menghancurkan mereka. Usai itu, ia mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit pada 1293 dengan pusat pemerintahan di Mojokerto.

Raden Wijaya menjadi raja pertamanya dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309).


Informasi Anda Genggam


Loading...