Mengenang Salah Satu Momen Tragis Sepanjang Sejarah Olimpiade, Kisah Matthias Steiner yang Berduka Usai Meninggalnya Sang Istri, Namun Berujung Dengan Medali Emas

Devi
Senin, 26 Juli 2021 | 14:11 WIB
Foto : CNN R24/dev Foto : CNN

RIAU24.COM -  Matthias Steiner mungkin adalah salah satu atlet angkat yang besi yang paling dikenal sepanjang sejarah Olimpiade.  Sejatinya, Steiner adalah seorang atlet Austria pada 1998-2005. Ia pun mengikuti berbagai ajang bersama Austria, termasuk Kejuaraan Eropa, Kejuaraan Dunia, dan Olimpiade 2004 Athena.

Sepanjang 2002-2005, ia tampil sebagai empat kali juara Kejuaraan Nasional Austria di kelas 105 kg. Bahkan, ia adalah pemegang rekor angkat besi Austria di kelas -105 kg dan +105 kg. Sayang, pertengkaran dengan federasi membuat Steiner meninggalkan Austria pada 2005.

Setelah menikah dengan Susann yang notabene berkewarganegaraan Jerman, ia pun memutuskan untuk hijrah ke Jerman. Dalam proses kepindahannya jadi warga negara Jerman, Steiner tak bisa bertanding di arena internasional pada 2006 dan 2007.  Sang istri dengan penuh semangat mendukung persiapan Steiner. Susann terus memberikan motivasi kepada Steiner agar kembali berpartisipasi dalam kompetisi. Steiner pun berjanji kepada Susann untuk masuk dalam Olimpiade 2008.

Olimpiade 2008 jadi sasaran utama Steiner. 

Baca juga: Berlaga di Liga 2 PSSI, KS Tiga Naga Lauching Logo Hingga Jersey Baru

"Saya sangat fokus dalam persiapan menghadapi Olimpiade, sedangkan istri saya tengah fokus pada kuliah yang ia jalani. Kariernya siap terbentang di depan mata." kata Steiner.

Namun detik-detik jelang pertandingan, atlet Jerman tersebut berada dalam kondisi mental yang sangat tidak baik. Hanya sebelum menghadapi pertandingan final di Olimpiade Beijing, ia kehilangan istrinya akibat kecelakaan. Susann meninggal dalam sebuah kecelakaan fatal yang terjadi pada 16 Juli 2007. Meninggalnya Susann membuat Steiner kembali berada dalam keraguan.

"Saya kemudian harus membuat keputusan, apakah saya berhenti dari dunia angkat besi, atau terus mempersiapkan diri untuk perlombaan. Saya menyadari, andai saya berhenti pun, apa yang terjadi tak akan berubah. Semua itu tetap akan terbawa hingga sisa hidup saya," ujar Steiner.

Steiner akhirnya membawa duka kehilangan istri dalam masa persiapan menuju Olimpiade. Kisah Steiner sendiri kemudian mencapai klimaksnya saat perlombaan berlangsung.Di atas kertas, saingan Steiner di nomor +105 kg adalah Evgeny Chigishev dari Rusia dan juara dunia Viktors Scerbatihs dari Latvia.

Pada angkatan snatch, Steiner mampu mengangkat beban 203 kg di kesempatan kedua namun gagal dalam percobaan 207 kg di angkatan ketiga. Dengan catatan 203 kg, Steiner hanya ada di urutan keempat dalam angkatan snatch.

Baca juga: Cristiano Ronaldo Cetak Gol Lagi, Tapi Lingard Jadi Pahlawan, MU Tempel Ketat Liverpool di Puncak Klasemen

Beban semakin berat bagi Steiner saat pertandingan memasuki tahapan clean and jerk.

"Dalam sesi pemanasan, saya coba mengangkat beban 235 kg dan saya gagal. Namun pelatih kemudian meminta saya mengangkat beban 246 kg di kesempatan pertama. Saya protes kepada pelatih dan mengatakan bahwa di pemanasan saja saya tak mampu mengangkat beban 235 kg," kata Steiner mengenang.

Steiner akhirnya maju dengan beban 246 kg di kesempatan pertama clean and jerk. Steiner berusaha mengangkat beban namun kemudian ia gagal mengangkat barbel dengan sempurna. Steiner gagal di kesempatan pertama.

"Angkatan pertama selalu jadi kunci saya. Saya selalu berhasil dan tidak pernah gagal sebelumnya. "Pelatih saya pun dalam situasi kebingungan pastinya. Apakah ia harus menambah beban atau mengulang beban yang sama di kesempatan kedua? Dan pastinya ia berpikir apakah saya dalam kondisi tertekan saat itu?" tutur Steiner.

Steiner dan timnya kemudian memutuskan menambah beban 2 kg di kesempatan kedua sehingga ia harus mengangkat beban sebesar 248 kg.

"Pelatih mengatakan kepada saya dengan keberhasilan di kesempatan kedua ini, maka saya sudah mengamankan medali perunggu untuk diri saya. Bahkan bila saya berhasil di kesempatan pertama tadi, saya sudah dapat medali perunggu."

Steiner berusaha keras untuk mengangkat barbel dan ia sukses mengangkatnya dengan sempurna tanpa kesulitan berarti.

"Saya sukses mengamankan medali perunggu. Brilian!" tutur Steiner menegaskan.

Medali perunggu sudah aman dalam dekapan Steiner. Beban dalam dirinya sudah mulai terangkat. Namun pertarungan belum selesai. Chigishev sukses melakukan angkatan seberat 250 kg di kesempatan ketiga dan poin totalnya pun jadi 460. Scerbatihs gagal mengangkat beban 257 kg di kesempatan ketiga sehingga total poinnya hanya 448.

Kegagalan Scerbatihs membuat Steiner dipastikan meraih medali perak dengan total poin 251 yang dimiliki. "Ada perbedaan besar dengan Chigishev yang memimpin klasemen. Steiner butuh mengangkat beban seberat 258 kg untuk bisa menyingkirkan Chigishev dari peringkat pertama."

"Namun satu hal yang menyenangkan, saya memegang kendali Olimpiade saat itu. Saya bisa meraih emas tanpa harus menunggu kegagalan atlet lainnya," ujar Steiner.

Steiner maju berhadapan dengan beban seberat 258 kg. Steiner secara mengagumkan mampu mengangkat beban sebesar 258kg, Steiner berteriak, menepuk-nepukkan tangannya ke matras. Hari itu, ia resmi jadi juara Olimpiade. Steiner menitikkan air mata, berpelukan dengan tim pelatih. Dalam total beban angkatan snatch dan clean & jerk, poin 461 Steiner unggul satu angka atas Chigisev. Momen mengharukan pun terjadi ketika Steiner berteriak dan kemudian berpose dengan foto Susann di podium. 

"Saya berdiri sendirian di podium dan tentu hal itu tidaklah bagus karena saya ingin istri saya berada di sini. Saya hanya ingin menunjukkan pada dunia bahwa saya tak ingin berdiri di sini sendiri," kata Steiner.
 


Informasi Anda Genggam


Loading...