Jenazah Hangus, Rumah Sakit Tak Mampu Identifikasi Korban Ledakkan Tangi di Lebanon, Perdana Menteri Dipaksa Ajukan Pengunduran Diri

Amerita
Senin, 16 Agustus 2021 | 13:46 WIB
AFP R24/ame AFP

RIAU24.COM - Sekelompok pengunjuk rasa berkumpul setelah ledakan tangki bahan bakar menewaskan 28 orang dan melukai 80 orang di Lebanon, Minggu (15/8)

Tragedi itu membanjiri fasilitas medis dan menambah kesengsaraan baru di negara yang sudah dilanda krisis ekonomi dan kekurangan bahan bakar yang melumpuhkan rumah sakit dan menyebabkan pemadaman listrik yang lama.

Baca juga: Korea Utara Minta Warganya Kumur Air Garam dan Konsumsi Obat Tradisional untuk Perangi Wabah COVID-19


Kejadian itu juga memicu luka lama kenangan pahit terkait ledakan besar di pelabuhan Beirut Agustus tahun lalu yang menewaskan lebih dari 200 orang dan menghancurkan sebagian besar ibu kota.

Kemarahan memuncak ketika pengunjuk rasa menyerang rumah Perdana Menteri Najib Mikati di Beirut untuk menuntut pengunduran dirinya. 

Tangki bahan bakar itu meledak tepat sebelum pukul 02:00 (2300 GMT) pada hari Minggu (15/8). Dua tentara tewas, 11 terluka parah dan empat hilang.

Baca juga: Firaun Ini Paling Terkenal Sepanjang Sejarah, Siapa?


Rumah sakit di Akkar, salah satu daerah termiskin di Lebanon, harus memulangkan banyak korban yang terluka karena rumah sakit itu tidak memiliki peralatan yang memadai untuk mengobati luka bakar yang parah.

"Mayat-mayat itu begitu hangus sehingga kami tidak dapat mengidentifikasi mereka," kata karyawan Yassine Metlej di sebuah rumah sakit Akkar kepada Agence France-Presse (AFP).


Informasi Anda Genggam


Loading...