Hasil Survei Menyatakan 98 Persen Orang Indonesia Kesepian di Masa Pandemi

Rizka
Selasa, 24 Agustus 2021 | 10:55 WIB
google R24/riz google

RIAU24.COM -  Sebuah survei yang dilakukan Into The Light dan Change.org terkait kesehatan mental masyarakat Indonesia pada periode Mei hingga Juni lalu menunjukkan hampir semua partisipannya yang terdiri dari 5.211 orang dari enam provinsi di Pulau Jawa merasa kesepian.

Hasil survei itu menunjukkan bahwa 98 persen partisipan merasa kesepian dalam satu bulan terakhir. Dua dari lima partisipan bahkan merasa lebih baik mati dan melukai diri sendiri dalam dua minggu terakhir selama periode survei dilakukan.

Peneliti pasca doktoral Universitas Macau yang juga merupakan mitra dari Into The Light, Andrian Liem menyebut dari survei itu juga ditemukan 40 persen responden memiliki pemikiran untuk melukai diri sendiri maupun berpikir untuk bunuh diri dalam dua minggu terakhir.

Baca juga: 10 Provinsi Penghasil Beras Terbesar di Indonesia

Dari hasil survei tersebut juga ditemukan bahwa responden masih sangat banyak yang melihat ada stigma terkait bunuh diri yang masih sangat kuat. Hal ini tercermin dari tidak ada partisipan yang menjawab seluruh pertanyaan tentang fakta dan mitos bunuh diri dengan benar.

Banyak partisipan bahkan yang menganggap bahwa menanyakan keinginan bunuh diri kepada seseorang akan memicu keinginan bunuh diri.

Meski perasaan kesepian menerpa hampir seluruh responden, tapi mereka tak berpikir untuk melakukan konseling ke psikolog atau psikiater.

Baca juga: Wow, Ternyata Karakter Diri Seseorang Bisa Diketahui dari Warna Outfitnya, Warna Ini Bikin Gregetan

Para partisipan justru meyakini anggota keluarga dan teman dekat berjenis kelamin sama sebagai sosok yang lebih membantu dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa dibandingkan dengan tenaga kesehatan jiwa profesional.

Hal ini juga selaras dengan hasil survei yang menemukan hampir 70 persen dari total partisipan mengaku tidak pernah mengakses layanan kesehatan mental dalam tiga tahun terakhir. Alasan yang dominan adalah biaya layanan kesehatan mental dianggap tidak terjangkau.

 


Informasi Anda Genggam


Loading...