Alami Perubahan Ritme Detak Jantung, Wanita Asal Selandia Baru Tewas setelah Divaksin dengan Merk Ini

Amerita
Selasa, 31 Agustus 2021 | 08:45 WIB
ilustrasi R24/ame ilustrasi

RIAU24.COM - Kementerian Kesehatan Selandia Baru melaporkan kematian pertama terkait vaksin COVID-19 Pfizer setelah seorang wanita menderita efek samping yang menyebabkan peradangan otot, Senin (30/8).

"Ini adalah kasus pertama di Selandia Baru di mana kematian pada hari-hari setelah vaksinasi dikaitkan dengan vaksin Pfizer COVID-19," kata Kemenkes dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Inilah 5 Alasan Orang Korea Mengapa Selalu Sehat dan Bugar


Kematian itu dikaitkan dengan miokarditis. Miokarditis adalah peradangan pada otot jantung yang membatasi kemampuan organ untuk memompa darah dan menyebabkan perubahan ritme detak jantung.

Pfizer mengatakan bahwa mereka menyadari ada kemungkinan menderita miokarditis setelah vaksinasi, tetapi efek samping seperti itu sangat jarang terjadi.

"Pfizer menanggapi kejadian buruk yang berpotensi terkait dengan vaksin kami dengan sangat serius. Kami memantau dengan cermat semua peristiwa semacam itu dan mengumpulkan informasi yang relevan untuk dibagikan dengan otoritas pengatur di seluruh dunia," kata Pfizer kepada Reuters.

Baca juga: Hindari dari Sekarang Jika Tak Ingin Menyesal Seumur Hidup, Ini Bahaya Minum Es Saat Haid


Meski demikian, Kementerian Kesehatan menekankan bahwa manfaat vaksinasi COVID-19 lebih besar daripada efek sampingnya.

"Manfaat vaksinasi dengan vaksin Pfizer COVID-19 terus jauh lebih besar daripada risiko infeksi COVID-19 dan efek samping vaksin, termasuk miokarditis."

Selandia Baru telah menyetujui penggunaan vaksin Pfizer/BioNTech, Johnson & Johnson dan AstraZeneca, tetapi hanya vaksin yang diproduksi oleh Pfizer disetujui untuk diluncurkan ke publik. 


Informasi Anda Genggam


Loading...