Menu

Pasukan Elite Baret Merah Kudeta dan Tahan Presiden Guinea Alpha Conde yang Terpilih 3 Periode

Riki Ariyanto 6 Sep 2021, 20:03
Pasukan Elite Baret Merah Kudeta dan Tahan Presiden Guinea Alpha Conde yang Terpilih 3 Periode (foto/int)
Pasukan Elite Baret Merah Kudeta dan Tahan Presiden Guinea Alpha Conde yang Terpilih 3 Periode (foto/int)

RIAU24.COM - Setelah Taliban mengambil alih kekuasaan Afghanistan, konflik serupa kembali terjadi di belahan dunia lainnya. Itu terjadi pada Presiden Guinea, Alpha Conde yang digulingkan oleh pasukan elite baret merah  pada Minggu (5 September 2021) waktu setempat.

Kudeta militer Guinea menggegerkan dunia. Negara berbentuk republik yang terletak di Afrika Barat sedang diambang krisis politik, sebab pelaku kudeta militer itu berencana membubarkan pemerintahannya.

Dilansir dari Tribunsumsel, pasukan khusus itu menangkap presiden dan membubarkan konstitusi. Militer tersebut juga memberlakukan jam malam. 

"Kami telah memutuskan, setelah menangkap presiden, membubarkan konstitusi," sebut seorang perwira berseragam diapit oleh tentara yang membawa senapan serbu dalam sebuah video yang dikirim ke AFP.

Dilansir dari Suara.com, pemimpin pasukan elite yang mengkudeta adalah Mamady Doumbouya mengatakan "kemiskinan dan korupsi yang mewabah" telah mendorong pasukannya melengserkan Conde dari kursi presiden.

"Kami telah membubarkan pemerintah dan institusi-institusi. Kami akan menulis ulang konstitusi bersama-sama," sebut Doumbouya mantan legiun asing Prancis itu pada siaran televisi pemerintah.

Baku tembak terjadi di dekat kediaman presiden di ibu kota Conakry pada Minggu pagi. Beberapa jam kemudian, video-video beredar di media sosial yang memperlihatkan Conde tengah berada dalam sebuah ruangan dan dikelilingi anggota pasukan khusus angkatan darat.

Amerika Serikat menyebut kekerasan dan tindakan apapun di luar konstitusi hanya akan mengikis prospek perdamaian, stabilitas dan kemakmuran Guinea.

Penyebab Presiden Alpha Conde digulingkan, dilaporkan Reuters, karena korupsi yang tiada henti dan diubahnya konstitusi yang membuat Presiden Alpha Conde bisa menjabat sebagai Presiden Guinea untuk periode yang ketiga.

Terpilihnya lagi Alpha Conde sebagai Presiden Guinea memicu protes keras dari rakyatnya.