Menu

Kisah Jendral Hoegeng yang Tak Ingin di Makamkan di TMP Kalibata karena Tak Mau Sekuburan dengan Para Koruptor

Rizka 8 Sep 2021, 09:37
google
google

RIAU24.COM - Drs. Hoegeng Iman Santoso adalah tokoh paling legendaris bagi para polisi. Kapolri ke-5 yang dilantik pada 1 Mei 1968 ini melegenda karena kejujuran, ketegasan, dan juga kebersahajaannya.

Gus Dur pun pernah mengatakan polisi jujur di Indonesia cuma ada 3, yaitu patung polisi, polisi tidur dan Hoegeng.

Lahir pada 14 Oktober 1921 di Pekalongan, Jawa Tengah, Hoegeng menjadi panutan tak hanya bagi anggoa Polri, tapi juga bagi aparat penegak hukum lainnya. Integritasnya yang tinggi membuatnya disegani sekaligus diteladani.

Selama menjabat sebagai Kapolri, Hoegeng pernah menangani kasus besar, yaitu Kasus Sum Kuning. Kasus ini adalah pemerkosaan yang menimpa seorang warga Yogyakarta bernama Sumarijem. Perempuan tersebut diperkosa oleh beberapa anak penggede.

Kemudian, kasus besar kedua yaitu kasus Rene Louis Coenrad, kasus pertandingan sepak bola persahabatan antara kesebelasan ITB dengan kesebelasan AKABRI yang berakhir ricuh. Kerusuhan tersebut berlanjut ketika soerang taruna Akpol menembak Rene mahasiswa ITB yang berujung pada kematian. Hoegeng berjanji untuk mengajukan kasus tersebut ke pengadilan. 

Kasus besar ketiga yang ditangani Hoegeng adalah kasus Robby Tjahyadi, seorang WNI yang terlibat kejahatan penyelundupan mobil mewah senilai Rp 716.243.300.. Kasus tersebut menjadi spektakuler, bukan dari nilai rupiahnya, tapi Robby memiliki kedekatan hubungan dengan Keluarga Cendana.

Sebelum beliau meninggal pada tahun 2004 silam, Mantan Kapolri Jendral Hoegeng berwasiat jika nanti ia mati ia tak ingin di makamkan di TMP Kalibata karena tak mau sekuburan dengan para koruptor.

Hoegeng meninggalkan seorang istri, tiga orang anak dan beberapa cucu. Menurut salah seorang kerabat Hoegeng, sebelum meninggal, almarhum sempat menderita sakit stroke dan gangguan jantung.

Jenderal yang terkenal jujur ini tak mau satu kuburan dengan Ahmad Thahir yang dimakamkan di sana. Thahir pernah menerima suap dari dua perusahaan Jerman Siemens dan Klocknet, sebagai pemulus untuk proyek pembangunan PLTU dan sarana pelabuhan bongkar muat PT Krakatau Steel.

Keinginan ia pun akhirnya terwujud. Beliau dimakamkan di Taman Pemakaman Giri Tama Bogor.

Rupanya bukan hanya Hoegeng, proklamator dan mantan wapres Mohammad Hatta juga tak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan gara-gara Ahmad Thahir. Hatta yang bersih dan jujur ini akhirnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan tahun 1980.