380 Guru di Zimbabwe Putuskan Bunuh Diri, Satu di Antara nya Terang-terangan Bilang Berencana Melakukan Hal Serupa

Amerita
Kamis, 09 September 2021 | 16:03 WIB
ilustrasi R24/ame ilustrasi

RIAU24.COM - Bunuh diri merupakan penyebab kematian paling umum ke-19 di Zimbabwe, banyak dari mereka yang bunuh diri adalah para guru.

Menurut Persatuan Guru Progresif Zimbabwe ((PTUZ)), sebanyak 380 guru melakukan bunuh diri dari 2008 hingga 2020. Di Zimbabwe, ada 136.000 guru yang mengajar 4,6 juta siswa.

Baca juga: Chris Hemsworth Insekyur Para Fans Kehilangan Minat Padanya Kalau Terus-terusan Perankan Thor


Thulani Maphosa (36) adalah seorang tenaga pengajar kontrak yang ditemukan tergantung di pohon di rumahnya di Nkayi pada April lalu. 
Sebelumnya, Mahposa diberhentikan karena sekolah sudah tutup sejak pandemi Covid-19 merajalelea.

“Dia selalu sedih setelah kehilangan pekerjaannya. Dia merasa sulit untuk menerima bahwa dia sekarang tidak memiliki pekerjaan,” kata James Ndumiso (61), paman Maphosa.

Tahun lalu pada Maret, Ntabiso Sibanda (54) seorang guru dari pinggiran Magwegwe Utara di Bulawayo, kota terbesar kedua di Zimbabwe, juga ditemukan tergantung di pohon.

Mayat guru itu ditemukan oleh dua anak laki-laki yang sedang mengumpulkan kayu bakar di dekat pabrik Pengolahan Limbah Magwegwe.

Baca juga: Inilah Gambar Matahari Paling Detail Yang Pernah Diambil Oleh Astrofotografer


Psikiater Anesu Chinoperekwei, menyalahkan tantangan ekonomi atas meningkatnya kasus bunuh diri di Zimbabwe.

“Bunuh diri adalah salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia dan kami melihat peningkatan kasus bunuh diri setiap hari. Saya ingin mengatakan di antara hal-hal yang berkontribusi pada orang yang melakukan bunuh diri adalah tantangan ekonomi,” katanya.

Di Zimbabwe, para guru berpenghasilan kurang dari $200 sebulan, atau sekitar Rp 2.800.000, jumlah yang sedikit untuk menyatukan jiwa dan raga sebuah keluarga.

Jetro Ntali, seorang guru berusia 47 tahun di kota Chegutu di negara itu, secara terbuka mengumumkan bahwa dia akan bunuh diri untuk menghindari tantangan ekonomi yang semakin meningkat.

“Uang yang saya peroleh tidak cukup untuk menghidupi keluarga saya. Saya tidak mampu membayar biaya sekolah asrama untuk ketiga anak saya dan saya bahkan berjuang untuk membeli makanan untuk mereka. rasanya lebih baik saya mati saja,” katanya.

 


Informasi Anda Genggam


Loading...