Wanita Ini Ceritakan Kisahnya Saat Melawan Taliban di Lembah Panjshir, Pakai Senjata Batu hingga Suaminya Tertembak Peluru

Amerita
Senin, 20 September 2021 | 13:27 WIB
Sumber foto: Jake Simkin R24/ame Sumber foto: Jake Simkin

RIAU24.COM - Saat Taliban merebut kekuasaan bulan lalu, satu provinsi menolak untuk menyerah: Lembah Panjshir, pusat ratusan pejuang lokal dan mantan tentara Pasukan Khusus Afghanistan bersatu di bawah Front Perlawanan Nasional (NRF).

“Seluruh keluarga saya ada di sana berkelahi, suami saya, saudara laki-laki, sepupu, ayah mertua, ibu mertua dan saya sendiri,” kata Lailuma, (24). 

Baca juga: Pembunuhan Versace, Pemilik Brand Terkenal Dunia yang Dibunuh Pada Pagi Bolong


“Saya melawan mereka dengan batu,” ujarnya lagi sambil menambahkan bahwa wanita muda lainnya juga ikut turun tangan melawan Taliban dengan batu.

Lailuma berasal dari distrik Anaba di Panjshir dan menjalani kehidupan yang tenang sebagai penjahit sebelum konflik pecah bulan lalu. 

“Mereka (Taliban) mengarahkan senjata mereka ke arah kami dan memberitahu kami untuk tidak pergi,” kenang Lailuma, menekankan bahwa mereka harus menyelinap berjalan kaki selama dua jam antara deretan gubuk lumpur untuk sampai ke rumah.

Baca juga: Walau Mirip Seperti 'Pengemis', Ke-10 Negara yang Ditemui Taliban Ini Kompak Tak Akui Wujud Mereka di Afghanistan


Lailuma sekarang tinggal di kamp darurat kumuh bersama ribuan warga Afghanistan lainnya di distrik 17 Polisi Kabul. Beberapa jamban meluap, dan tidak ada tanda-tanda air, makanan atau bantuan medis.

Lailuma mengatakan bahwa kini suaminya sedang dirawat di Rumah Sakit Wazir Akbar Khan terdekat karea luka tembakan di lengannya saat melawan Taliban di Panjshir.

Selain itu, Anisa (45) menangis saat menceritakan bagaimana dia kehilangan putranya Sakhi yang berusia 18 tahun.

“Dia meninggal dan kami tidak bisa mengambil jenazahnya selama dua hari,” tangisny


Informasi Anda Genggam


Loading...