Menu

Kisah Waloejo Sedjati Korban Politik Peristiwa G30S PKI, Dari Orang Buangan dan Jadi Dokter Spesialis Bedah Cemerlang di Perancis

Devi 30 Sep 2021, 10:33
Foto : https://serikatnews.com/
Foto : https://serikatnews.com/

Salju sedang turun di kota Pyongyang ketika kereta tiba. Dan itulah pertama kalinya Waloejo melihat salju. Ia disambut begitu megah di Stasiun Pyongyang, dengan drum band dan karangan bunga. Tiba di hotel, ucapan selamat datang dan hadiah seperangkat pakaian musim dingin, disampaikan kepadanya dengan pesan “langsung dari Marsekal Kim Il Sung”.

Pada malam harinya, ia dijamu pemimpin Liga Pemuda Demokrasi. Atas semua itu, Waloejo bertanya dalam hati: “apakah sudah begitu pentingnya kedatangan kami ini?”

Di Korea “dinding pun punya kuping”. Bulan-bulan pertama di Pyongyang, ia belajar bahasa Korea di Universitas Kim Il Sung. Ia belajar bersama para mahasiswa asing lainnya dari Eropa Timur, Afrika dan Asia. Lalu pada bulan September 1961 ia pun memulai masa delapan tahun belajar ilmu kedokteran di Institut Kedokteran Pyongyang. Di sana, di kalangan mahasiswa ia menjadi “bintang”. Selain karena ia tak berseragam seperti mahasiswa lain, ia dianggap “datang dari negeri kapitalis untuk menimba ilmu di negara sosialis”.

Ia sempat mendampingi kontingen olahraga Korea Utara yang datang bertanding di Ganefo, pesta olahraga negara-negara Asia yang digagas Bung Karno di Jakarta sebagai tandingan Olimpiade di tahun 1963. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk pulang kampung ke Karanganyar.

Ia juga menyaksikan kunjungan bersejarah Bung Karno ke Korea Utara di awal musim gugur tahun 1964, beberapa bulan setelah dibentuknya hubungan diplomatik Indonesia-Korea Utara. Sambutan kepada Soekarno di Pyongyang itu merupakan pesta terbesar yang pernah diadakan untuk menyambut tamu kepala negara asing. Pesta penyambutan digelar selama tiga hari di jalan-jalan dengan aneka acara, seluruh kota berhias dan dipercantik, ribuan lampu menyala di malam hari dengan display huruf “Selamat Datang” dan “Hidup Persahabatan” dalam bahasa Indonesia dan Korea.

Selama kunjungan itu, Waloejo dikontrak Radio Pyongyang sebagai penerjemah siaran berita.

Halaman: 234Lihat Semua