Masih Masalah Kapal Selam, Prancis Sebut Australia Kekanak-kanakan

M. Iqbal
Jumat, 08 Oktober 2021 | 14:26 WIB
Ilustrasi/net R24/ibl Ilustrasi/net

RIAU24.COM - Permasalahan kapal selam antara Prancis dan Australia masih berlanjut. Bahkan, Duta Besar Francis untuk Australia, Jean-Pierre Thebault menyebut Australia kekanak-kanakan karena enggan menginformasikan pada Prancis pembicaraannya dengan Amerika Serikat dan Inggris soal rencana membangun kapal selam nuklir.   

Dilansir dari Tempo.co, Australia sebelumnya pada bulan lalu, memutuskan untuk membatalkan rencana pembelian kapal selam senilai USD 40 miliar (Rp 567 trilun) dengan perusahaan asal Prancis, Naval Group.

Kemudian, Negeri Kangguru itu ikut rencana pembuatan setidaknya 8 kapal selam berkekuatan tenaga nuklir dengan Inggris dan Amerika Serikat lewat kemitraan trilateral.

Baca juga: Tersedak Anggur, Bocah Berusia 5 Tahun Ini Dilarikan ke Rumah Sakit

Pembatalan pembelian kapal selam tersebut telah membuat Prancis marah, yang kemudian menuduh Australia dan Amerika Serikat menikam dari belakang karena melakukan pembicaraan tanpa memberi tahu Prancis.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan pihaknya kepikiran soal kontrak dengan Naval Group yang akhirnya jadi masalah. Namun Morrison juga tidak bisa mengungkap hasil diskusi dengan Amerika Serikat hingga kemitraan strategis disepakati

Duta Besar Thebault mengatakan Prancis dulunya adalah mitra keamanan Amerika Serikat, Australia dan Inggris sehingga bisa dipercaya memegang informasi-informasi seperti itu (kesepakatan kapal selam nuklir). Thebault pada bulan lalu ditarik oleh Paris dari Australia, namun sekarang sudah ditempatkan lagi di Negeri Kangguru.

Baca juga: Kisah Menginspirasi Langar Baba Chandigarh, Memberi Makan Ribuan Orang Lapar Sampai Kematiannya

"Kalau saya dapat katakan, ini sungguh kekanak-kanakan. Sebab mungkin saja berkonsultasi dengan Prancis (soal kesepakatan dengan Inggris dan Amerika Serikat)," ujar Duta Besar Thebault dalam sebuah wawancara dengan radio ABC, Jumat, 8 Oktober 2021.

Thebault menambahkan Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Menteri Luar Negeri Anthony Blinken pernah mengatakan masalah ini seharusnya bisa ditangani dengan lebih baik.


Informasi Anda Genggam


Loading...