Kordahi Enggan Minta Maaf, Bahrain Desak Warganya Angkat Kaki dari Lebanon

Amerita
Kamis, 04 November 2021 | 09:39 WIB
ilustrasi R24/ame ilustrasi

RIAU24.COM - Yaman menjadi negara Arab kelima yang menarik duta besar Lebanonnya setelah pernyataan Menteri Informasi Lebanon, George Kordahi, memicu ketegangan antara kedua negara.

Baca juga: Korea Utara Minta Warganya Kumur Air Garam dan Konsumsi Obat Tradisional untuk Perangi Wabah COVID-19


Kementerian Luar Negeri Yaman telah memanggil duta besarnya, Abdullah al-Deais.

Al-Deais telah menyampaikan surat dari pemerintahnya kepada Kementerian Luar Negeri Lebanon pada Rabu (3/11) terkait komentar Kordahi tersebut.

Baca juga: Firaun Ini Paling Terkenal Sepanjang Sejarah, Siapa?


"Pemerintah dan rakyat Yaman akan terus menghadapi proyek Iran dan milisinya, dan akan menjadi katup pengaman bagi semenanjung Arab dan kawasan secara umum," bunyi pernyataan tersebut.

Sebelum Yaman, Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, sudah memanggil duta besar mereka. 

Ini merupakan protes nyata atas komentar Kordahi tentang operasi militer yang dipimpin Arab Saudi.

Saat Kordahi ditanya 'Apakah dia berpikir bahwa Houti hanya membela tanah mereka', Kordahi menjawab 'Tentu saja mereka membela diri. Pendapat pribadi saya adalah bahwa perang di Yaman ini harus diakhir. Rumah, gedung-gedung, desa dan kota, diserang oleh jet-jet tempur.'

Bahrain bahkan mendesak semua warganya yang berada di Lebanon untuk segera pergi. Sementara Kordahi menolak untuk meminta maaf atas komentar sensitifnya.

Arab Saudi juga melarang semua impor Lebanon, pukulan besar bagi negara kecil yang sangat membutuhkan mata uang asing.

Perang saudara di Yaman dimulai pada September 2014 ketika pasukan Houthi mengambil alih ibu kota Sanaa. 

Bersamaan dengan itu, koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi melancarkan operasi militer, termasuk serangan udara untuk memulihkan pemerintahan Yaman.

 


Informasi Anda Genggam


Loading...