Para Pemerhati Lingkungan Mempertanyakan Komitmen Indonesia Untuk Memerangi Perubahan Iklim

Devi
Senin, 08 November 2021 | 11:23 WIB
Foto : AsiaOne R24/dev Foto : AsiaOne

RIAU24.COM - Ratusan aktivis berkumpul di jalan-jalan ibukota Indonesia Jakarta pada Jumat (5 November), mempertanyakan komitmen pemerintah untuk mengatasi pemanasan global setelah tampaknya mundur dari janji yang dibuat pada konferensi iklim PBB yang sedang berlangsung.

Protes itu terjadi beberapa hari setelah menteri lingkungan hidup Indonesia mengkritik rencana global untuk mengakhiri deforestasi pada tahun 2030 dan mengurangi emisi karbon sebagai tidak adil dan bertentangan dengan rencana pembangunan negara.

Baca juga: Ini Jawaban UAS Usai Disebut Ekstrimis oleh Singapura

Kelompok lingkungan mengatakan pemerintah Indonesia, rumah bagi sepertiga hutan hujan dunia, tampaknya tidak serius dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

Wahyu Perdana, seorang aktivis kelompok lingkungan hidup lokal Walhi, mengatakan Jakarta "membayar basa-basi" untuk mengatasi perubahan iklim sambil meningkatkan produksi batu bara, bahan bakar paling kotor yang menyebabkan suhu global meningkat.

Pemerintah telah menaikkan target produksi batubara 2021 menjadi rekor 625 juta ton dari target awal 550 juta ton, katanya.

Baca juga: Cerita Jenderal Sudirman dan Nasi Oyek

Indonesia, penghasil gas rumah kaca terbesar kedelapan di dunia, berencana untuk menghentikan penggunaan batu bara untuk listrik pada tahun 2056, sebagai bagian dari rencana untuk mencapai emisi nol karbon bersih pada tahun 2060 atau lebih awal.

Seorang juru bicara kementerian lingkungan tidak menanggapi kritik kelompok lingkungan.

Para pemimpin dunia berkumpul di Glasgow minggu ini untuk pembicaraan guna mengamankan janji dari negara-negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menjaga kenaikan suhu global rata-rata hingga 1,5 derajat Celcius. Melewati ambang batas itu dapat memicu krisis iklim yang mengalir, kata para ilmuwan.

Juru kampanye kehutanan Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik mengatakan pada protes bahwa kebijakan Indonesia saat ini memungkinkan deforestasi yang menguntungkan perusahaan besar dan merugikan masyarakat lokal yang hidup dari hutan.


Informasi Anda Genggam


Loading...