Marinir Loyalis Soekarno Tewas dengan Kondisi Mengenaskan, Didor Tepat di Bagian Kepala

Azhar
Senin, 15 November 2021 | 13:41 WIB
Hartono. Sumber: Facebook R24/azhar Hartono. Sumber: Facebook
Bea Cukai

RIAU24.COM -  Operasi untuk memberantas loyalis-loyalis Presiden Soekarno pasca peristiwa G30S PKI yang diperintahkan langsung oleh Soeharto mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Termasuk datang dari Komandan Korps Komando Operasi (Marinir) TNI AL Mayjen Hartono yang saat itu juga merupakan loyalis Soekarno.

Dia menganggap tindakan Soeharto itu sudah melampaui batas. Semua ini terungkap dalam buku Nasib Para Soekarnois: Kisah Penculikan Gubernur Bali Sutedja 1966 karya Aju dikutip dari okezone.com.

Baca juga: Viral! Netizen Bandingkan Pesulap merah dan Buya Yahya Dalam Membongkar Praktek Perdukunan

Kegeramannya itu dibuktikan dengan meminta izin kepada Soekarno secara berulang kali untuk memberikan pelajaran pada Soeharto. Namun, Presiden Soekarno menolak karena khawatir akan kembali terjadi pertumpahan darah.

Setelah Soeharto resmi menggantikan Soekarno pada tahun 1968, Hartono disingkirkan dengan cara diberi tugas sebagai Duta Besar RI di Korea Utara hingga beberapa tahun lamanya.

Cara itu dilakukan karena Soeharto mengetahui sikap Hartono yang tak senang dengan dirinya.

Baca juga: Waspada! Pempek Ikan Busuk Dijual di Emperan Kaki Lima Jawa Barat

Ketika diminta kembali untuk pulang Hartono mendapatkan firasat tak baik. Terbukti ketika dia ditemukan tewas dalam kamarnya akibat mendapat tembakan di kepalanya.

Pemerintah menganggap Hartono bunuh diri. Namun data yang ditemukan di rumah Hartono berbeda dengan hasil investigasi resmi yang dikeluarkan RSPAD.


Informasi Anda Genggam


Loading...