Kisruh Musda Partai dan Kecewa Dengan AHY, Asri Auzar: Saya Bangga Keluar dari Demokrat

Riki Ariyanto
Rabu, 01 Desember 2021 | 21:47 WIB
Kisruh Musda Partai dan Kecewa Dengan AHY, Asri Auzar: Saya Bangga Keluar dari Demokrat (foto/int) R24/riki Kisruh Musda Partai dan Kecewa Dengan AHY, Asri Auzar: Saya Bangga Keluar dari Demokrat (foto/int)
Bea Cukai

RIAU24.COM - Sedang ramai pemberitaan kisruh pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) V Partai Demokrat (PD) Provinsi Riau, Selasa (30/11/2021). Seperti diketahui

Agung Nugroho terpilih secara aklamasi sebagai calon Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PD Riau dipemilihan yang digelar di SKA Co-Ex di Kota Pekanbaru itu.

Dilansir dari Kompas.com, buntut Musda PD Riau tersebut sejumlah kader melakukan pembakaran atribut partai. Pembakaran atribut Partai Demokrat dilakukan sekelompok kader akibat kecewa dan berlangsung di depan Kantor DPD Demokrat Riau di kawasan Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru, Rabu (1/12/2021).

Baca juga: Deolipa eks Pengacara Bharada E Minta Bayaran Rp15 T ke Bareskrim, Ternyata Ini Maksud dan Tujuannya

Ada kader yang membakar baju, bendera, jaket dan atribut berwarna biru itu. Kekecewaan turut dirasakan Asri Auzar, selaku mantan Ketua DPD Demokrat Riau periode 2017-2022. Asri Auzar berpandangan, Musda ini tidak sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PD.

Hari ini Musda dilakukan DPP terhadap Partai Demokrat Riau. Dalam pandangan saya, Musda ini tidak sesuai dengan AD/ART partai. Tidak dihadiri orang DPD, temasuk saya sendiri sebagai ketua. Dan mereka tetap lanjut Musda ini," ujar Asri saat diwawancarai wartawan usai pembakaran atribut PD, Selasa.

Menurut dia, pelaksanaan Musda tersebut sama dengan mengambil alih paksa terhadap jabatan ketua DPD Demokrat Riau oleh DPP PD.

"Dulu saya bangga menjadi kader Partai Demokrat. Saya terdepan memperjuangkan partai ini. Tapi, hari ini saya juga bangga keluar dari Partai Demokrat," sebut Asri kecewa.

Baca juga: Kejagung Tunjuk 30 JPU Tangani Kasus Pembunuhan Berencana Ferdy Sambo

Pria yang pernah mencalonkan diri sebagai Bupati Rokan Hilir (Rohil) itu menyebut, PD tidak lagi berpegang pada AD/AR. Walaupun AD/ART tidak pernah dibahasnya.

 

"Tetapi, Ketum kami AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) yang pertama saya kagumi kemarin, hari ini pudar di mata saya. Bahwa beliau tidak ubahnya seperti apa yang sahabat-sahabat saya yang kemarin. Bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) sering menyampaikan kepada kami bahwa kami harus selalu sopan santun dan beretika, menjalankan aturan-aturan partai dan tidak boleh melanggar AD/ART," ujar Asri.

 

Asri Auzar merasa dizalimi dengan digelarnya Musda PD Riau itu. Ia menyebut musda itu hanya ecek-ecek. Meski demikian, Asri mengaku ikhlas. "Mestinya Musda ini dilakukan melalui tahapan-tahapan. Saya dulu dilantik tahun 2017 dan menjabat sampai 2021. Tapi, hari ini dilakukan Musda. Musda apa namanya? Saya pun tidak tahu. Musda-kah atau Musdalub?" kata Asri.

 

Sementara itu, Juru Bicara (Jubir) DPC Demokrat se-Riau Muzammil mengatakan, dalam Musda ini tidak ada pihak yang dizalimi. Proses pelaksanaan Musda adalah konstitusional.

 

"Pelaksanaan Musda sudah sesuai dengan amanat parta, AD/ART dan PO (Peraturan Organisasi) partai ini," tegas Muzammil saat diwawancarai Kompas.com dalam konferensi pers di Pekanbaru, Selasa malam.

 

Muzammil menyatakan, percepatan digelarnya Musda itu merupakan kehendak seluruh pemilik suara. Bahkan, Musda sempat tiga kali diundur.

 

Sebab itu, pihaknya meminta DPP Demokrat untuk segera menggelar Musda di Pekanbaru. "Jadi, bahwa tidak terpilihnya Bapak Asri Auzar bukan karena dizalimi," tegas Muzammil.

 

Saat ditanya terkait adanya kader yang membakar atribut karena kecewa dengan Musda, Muzammil menyebut hal itu merupakan dinamika.

 

Menurutnya, hal tersebut juga manusiawi apabila ada yang terpilih dan tidak terpilih.

 

"Itu dinamika biasa, lumrah dalam kita berpartai," ujar Muzammil.


Informasi Anda Genggam


Loading...