Pendiri Ripple (XRP) Chris Larsen Imbau Para Penambang Bitcoin untuk Tinggalkan Algoritma Proof of Work (PoW), Ini Sebabnya

Devi
Sabtu, 11 Desember 2021 | 11:50 WIB
Foto : Internet R24/dev Foto : Internet
Bea Cukai

RIAU24.COM - Chris Larsen selaku salah satu founder kripto Ripple (XRP) mengungkapkan keprihatinannya terhadap industri penambangan Bitcoin yang kian menjamur di AS. 

Larsen meminta para miner untuk meninggalkan algoritma konsensus Proof of Work (PoW). Desakan tersebut disampaikan Larsen dalam postingan blognya di platform Medium.

Pendiri XRP tersebut mengungkapkan bahwa perusahaan penambangan yang terdaftar di AS seprti Riot Blockchain, BIT Mining, dan Marathon Digital Mining akan lebih baik jika melakukan staking koin yang mereka miliki. 

Dengan cara staking, mereka akan menerima reward berdasarkan pro-rate hash power.

Baca juga: Hati-hati Pengguna Android! Malware Ini Dapat Menguras Dompet Seluler Anda Dengan Mematikan Wi-Fi Anda


 
Dilansir dari U.today, perubahan kode akan melibatkan pengambilan snapshot hashrate mereka untuk memastikan bahwa mereka akan diberi kompensasi yang adil untuk berinvestasi dalam peralatan. Larsen menilai transisi dari mining ke staking akan memberikan manfaat yang lebih besar untuk mereka dibanding risikonya.

“Di bawah proposal seperti itu, penambang akan mendapatkan manfaat ekonomi tambahan — memperoleh pendapatan yang sama dengan biaya operasional yang jauh lebih sedikit... Sementara proses untuk memberlakukan rencana ini dengan konsensus di seluruh komunitas bitcoin akan memakan waktu, manfaatnya jauh lebih besar daripada risikonya,” kata Larsen.

Selain itu, Larsen juga menilai bahwa pemerintah China berpotensi untuk merebut kendali atas jaringan Bitcoin karena dominasinya di industri penambangan. Namun pendapat Larsen dibantah oleh komunitas cryptocurrency.

Sebelumnya, Larsen sempat mendorong para pengembang dan penambang supaya beralih ke mekanisme baru yakni Proof of Stake. Pasalnya PoS tidak menimbulkan dampak besar terhadap lingkungan. Ini berbeda dengan PoW yang dinilai sudah kadaluarsa meskipun sangat canggih namun menimbulkan kerusakan lingkungan yang cukup besar sebagaimana dilansir dari Coindesk.

Baca juga: iPhone 13 Mini Pink, Hadir di Indonesia Dengan Banyak Keunggulan

 

“Cryptocurrency yang menggunakan PoW harus mempertimbangkan perubahan kode ke metode validasi lain seperti Proof-of-Stake (PoS) atau Federated Consensus (atau sesuatu yang belum dikembangkan),” tulis Larsen.

“Kita harus melihat PoW apa adanya — teknologi yang dirancang dengan brilian yang menjadi ketinggalan zaman di dunia saat ini," tulis Larsen. "Mereka [jaringan PoW] perlu.... merangkul alternatif energi rendah/rendah karbon untuk mengamankan buku besar mereka,” kata salah satu pendiri Ripple.


Informasi Anda Genggam


Loading...