Guru Dipecat karena Berhijab, Perdana Menteri Justin Trudeau Diminta Turun Tangan

Amerita
Kamis, 16 Desember 2021 | 10:35 WIB
ilustrasi R24/ame ilustrasi

RIAU24.COM - Seorang guru Muslim di Kanada, yang mengenakan hijab saat mengajar bahasa Prancis, dipecat dari pekerjaannya karena cara ia berpakaian.

Baca juga: Gawat! Australia Laporkan Kasus Cacar Monyet Pertamanya, Inilah Daftar Negara yang Sudah Terdampak


Fatemeh Anvari, seorang guru kelas tiga di Sekolah Dasar Chelsea di Quebec, ditawari posisi permanen setelah bekerja sebagai guru pengganti di Dewan Sekolah Quebec Barat selama beberapa bulan.

Baca juga: Korea Selatan Bikin Kota Terapung dengan Desain Sarang Lebah, Sangat Canggih dan Keren


Hanya satu bulan berikutnya, kepala sekolah memberi tahu Anvari bahwa dia harus dipindahkan ke posisi di luar kelas karena jilbabnya.

“Jujur, pada detik itu, saya sangat terkejut. Sangat sulit untuk diproses,” kata Anvari kepada CBC.

Undang-undang Quebec 21 melarang sebagian besar pegawai negeri, termasuk perawat, guru, dan petugas polisi, mengenakan simbol agama seperti sorban, jilbab, salib, dan kippah saat bekerja.

Kini, Dewan Nasional Muslim Kanada (NCCM) sedang mengumpulkan tanda tangan petisi agar Perdana Menteri Justin Trudeau campur tangan dalam persoalan ini.

NCCM dan Canadian Civil Liberties Association berjuang agar RUU tersebut dibatalkan oleh pengadilan karena melanggar hak asasi manusia. 

NCCM juga mengatakan RUU itu secara tidak adil menargetkan wanita Muslim.

Mustafa Farooq, CEO NCCM, mengatakan bahwa Fatemeh Anvari adalah “seorang wanita Muslim Quebec pemberani yang dicopot dari posisinya sebagai guru karena dia memiliki keberanian untuk mengenakan jilbabnya ke sekolah.”

“Tanda tangani petisi kami yang meminta Perdana Menteri untuk campur tangan dalam tantangan hukum kami,” tambah Farooq menghimbau.

 


Informasi Anda Genggam


Loading...