Mengingat Kembali Aksi Teror Bom hingga Baku Tembak 16 Januari 2016 di Thamrin, 8 Orang Tewas

Rizka
Jumat, 14 Januari 2022 | 14:17 WIB
google R24/riz google
Bea Cukai

RIAU24.COM -  Pada 14 Januari 2016, tepat lima tahun lalu, bom meledak disusul baku tembak antara teroris dan polisi di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Akibat aksi teror di Jalan MH Thamrin, tepatnya di depan gedung Sarinah, Jakarta Pusat, delapan orang dinyatakan tewas dan 26 orang lainnya menderita luka-luka. 

Dilansir dari Kompas.com, ledakan terjadi sekitar pukul 10.39 WIB di salah satu kedai kopi ternama yang lokasinya tak jauh dari Sarinah. Teridentifikasi seorang pria bernama Ahmad Muhazan, yang diketahui menjadi pelaku bom bunuh diri di kedai kopi tersebut. Ahmad melekatkan bom pada tubuhnya.

Sebelum diledakkan, dia berusaha memegang tangan petugas satuan pengamanan (satpam) kedai kopi yang berinisial AT. Untungnya, AT berhasil selamat setelah menghindar. Namun, ia terpental hingga 10 meter dan menghantam kaca di dalam kedai kopi. AT beserta pengunjung lainnya mengalami luka-luka akibat ledakan itu, sementara tubuh pelaku hancur.

Baca juga: Deolipa eks Pengacara Bharada E Minta Bayaran Rp15 T ke Bareskrim, Ternyata Ini Maksud dan Tujuannya

Berselang beberapa detik dari teror di kedai kopi tersebut, terdengar ledakan lain dari pos polisi dekat Gedung Sarinah. Pelaku kemudian diketahui bernama Dian Juni Kurniadi. Dia melempar bom tabung sembari mengendarai sepeda motor.

Untuk mengaktifkannya, bom tersebut dilengkapi dengan sakelar.

Pada saat kejadian, ada empat orang di sekitar pos polisi. Keempatnya, yakni Ajun Inspektur Satu DM yang saat itu sedang menilang RH dan sepupunya, AK. Satu orang lainnya adalah S, seorang kurir barang yang sedang berjalan melewati pos polisi.

RH dan S tewas, serta DM terluka parah. Sementara AK selamat. Sekitar pukul 10.48 WIB, terjadi penembakan di sekitar kedai kopi yang menjadi lokasi ledakan pertama. Ada dua pelaku, yakni Sunakim alias Afif dan Muhamad Ali.

Keduanya berjalan ke tengah jalan sambil membawa ransel berisi bom rakitan, lalu menembak ke arah polisi di lokasi yang sedang melakukan penutupan ruas jalan MH Thamrin. Peluru yang ditembakkan teroris itu melesat ke kepala warga sipil bernama RK.

Korban kala itu diketahui sedang berusaha mengabadikan peristiwa tersebut. RK lantas tergeletak di jalan setelah tertembak. Ia meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit. Muhamad Ali sempat berlari ke dalam kedai kopi tersebut dan melepaskan tembakan berkali-kali.

Dua warga negara asing menjadi korbannya, yakni Amer Quali Tahar yang kemudian tewas, dan Yohanes Antonius Maria.

Tak lama setelah itu, polisi berdatangan ke lokasi, dan terjadi baku tembak dengan teroris.

Para pelaku bahkan sempat melempar granat rakitan ke arah polisi. Insiden itu berakhir ketika Afif dan Muhammad Ali tewas usai terkena ledakan bom yang mereka bawa, ditambah tembakan polisi.

Baca juga: Kejagung Tunjuk 30 JPU Tangani Kasus Pembunuhan Berencana Ferdy Sambo

Akibat aksi teror di Thamrin tersebut, 21 orang menjadi korban. Delapan orang di antaranya meninggal dunia, terdiri dari empat pelaku dan empat warga sipil. Sementara sisanya menderita luka-luka.

Pihak kepolisian berhasil mengungkap dalang aksi teror di MH Thamrin tersebut. Dia adalah Aman Abdurrahman, yang juga dikenal sebagai Ketua Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Indonesia. Saat peristiwa tersebut, Aman merupakan residivis kasus terorisme yang baru bebas usai mendapatkan remisi pada 17 Agustus 2017.

Baru sehari menghirup udara bebas, Aman kembali ditangkap atas kasus bom Thamrin. Aman kemudian dinyatakan bersalah dan divonis mati pada 22 Juni 2018. Aman tak sendirian, ia bekerja sama dengan Iwan Darmawan Muntho alias Rois untuk mendalangi bom Thamrin saat keduanya menjadi tahanan di Lapas Kembang Kuning, Nusakambangan, Cilacap.


Informasi Anda Genggam


Loading...