Alert! Vladmir Putin Ancam Perang Dunia 3 ke NATO

Zuratul
Selasa, 28 Juni 2022 | 13:46 WIB
Parade Militer Rusia Peringatan Kemenangan NAZI atas Perang Dunia II/cnbc.com R24/zura Parade Militer Rusia Peringatan Kemenangan NAZI atas Perang Dunia II/cnbc.com
Bea Cukai

RIAU24.COM Rusia mengancam NATO akan "Perang Dunia 3". Ini dikatakan Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev.

Hal itu terkait wilayah Ukraina yang dianeksasi Kremlin sejak 2014, Krimea. Setiap "pelanggaran" yang dilakukan aliansi itu di semenanjung Krimea akan dianggap sebagai deklarasi Perang Dunia 3.

Baca juga: Rumah Ini Tetap Berdiri di Tengah Jalan Layang Meski Terancam Digusur

"Bagi kami, Krimea adalah bagian dari Rusia. Dan itu berarti selamanya. Setiap upaya untuk melanggar batas Krimea adalah deklarasi perang terhadap negara kami," tegas Medvedev Senin, dikutip Reuters Selasa (28/6/2022) melansir situs berita Argumenty i Fakty.

"Dan jika ini dilakukan oleh negara anggota NATO, ini berarti konflik dengan seluruh aliansi Atlantik Utara; Perang Dunia Ketiga. Sebuah bencana total," tambahnya.

Di kesempatan yang sama Medvedev juga mengancam Swedia dan Finlandia yang selangkah lagi hendak bergabung NATO.

Rusia, kata dia, akan memperkuat perbatasannya dan akan "siap untuk langkah-langkah pembalasan".

"Ini dapat mencakup prospek memasang rudal hipersonik Iskander di ambang pintu mereka," tulis media itu lagi mengutip Medvedev.

Sementara itu, di hari yang sama, NATO sendiri berencana untuk menyiagakan hingga 300 ribu pasukannya di tengah ketegangan dengan Rusia karena Ukraina. Ini diutarakan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg saat konferensi pers di tengah KTT aliansi.

Dalam sebuah pernyataan pers semalam, mengatakan bahwa langkah itu merupakan perombakan terbesar dalam pertahanan kolektif Perang Dingin. Ia juga mengatakan serangan Rusia ke Ukraina merupakan ancaman langsung bagi aliansi itu.

Baca juga: Berasal dari Kota Kecil, Wanita Ini Menjelma Menjadi Wanita Pertama yang Memimpin Badan Ilmiah Top India

"KTT NATO kami di Madrid minggu ini akan transformatif dengan banyak keputusan penting, termasuk tentang Konsep Strategis baru untuk realitas keamanan baru," katanya.

"Kami akan mengubah Pasukan Respons NATO dan meningkatkan jumlah pasukan kesiapan tinggi kami menjadi lebih dari 300.000," tambahnya.

Dilansir dari cnbc.com, angka ini sendiri merupakan peningkatan yang cukup besar hingga hampir 650%. Sebelumnya, pasukan siaga NATO hanya berjumlah 40 ribu personil.

"Pasukan ini akan berlatih bersama dengan pasukan pertahanan dalam negeri, dan mereka akan terbiasa dengan fasilitas medan lokal, sehingga mereka dapat merespons dengan lancar dan cepat terhadap keadaan darurat apa pun."

Sebelumnya, negara-negara Baltik anggota aliansi NATO seperti Lithuania, Estonia, dan Latvia merasa bahwa Rusia bisa saja menyerang mereka. Khusus Lithuania, negara itu sedang bersitegang terkait pelarangan perlintasan kereta Rusia yang ingin melaju ke wilayah enklave milik Moskow di Laut Baltik, Kaliningrad.

Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri meluncurkan serangan ke Ukraina 24 Februari lalu. Serangan ini diluncurkan saat Kyiv sedang berusaha untuk bergabung dalam aliansi militer pimpinan Amerika Serikat (AS) itu.


Informasi Anda Genggam


Loading...