Kenapa Air Zam-zam Tidak Pernah Habis?

Zuratul
Rabu, 29 Juni 2022 | 13:05 WIB
Potret Seorang Petugas yang Mengambil Air Zam-zam, dimana notabene nya disediakan setiap harinya di Makkah/99.co R24/zura Potret Seorang Petugas yang Mengambil Air Zam-zam, dimana notabene nya disediakan setiap harinya di Makkah/99.co
Bea Cukai

RIAU24.COM - Air zamzam tak juga mengering meski disedot jemaah haji dan warga Mekah selama ribuan tahun. Bagaimana bisa?

Sumur Zamzam berasal dari zaman Ismail Ibn Ibrahim SAW yang terletak di sebelah timur Ka'bah atau sekitar 21 meter dari halaman Masjid Al-Haram. Sumur itu secara ajaib mengeluarkan air ketika putra Ibrahim, Ismail, kehausan dan menangis di padang pasir bersama ibunya, Siti Hajar.

Menurut Pusat Studi dan Penelitian Zamzam Saudi Geological Survey, nama Zamzam berasal dari frasa Zome Zome, yang berarti 'berhenti mengalir,' sebuah perintah yang diulangi oleh Hajar selama upayanya untuk menahan mata air yang terus mengalir sat itu.

Baca juga: Rumah Ini Tetap Berdiri di Tengah Jalan Layang Meski Terancam Digusur

Kedatangan Nabi Ismail 1920 SM

Dilansir Egypt Today, dokumen-dokumen sejarah menunjukkan bahwa kedatangan Nabi Ismail A.S ke Mekah sekitar tahun 1910 SM, merupakan tahun munculnya Zamzam. Sejak saat itu, atau lebih dari 4.000 tahun lamanya, air zamzam terus disedot dan tidak pernah habis.

Air tersebut juga menjadi buruan utama jemaah haji dan umroh dari seluruh dunia setiap tahunnya, selain menjadi sumber utama pasokan air di wilayah Mekah dan sekitarnya.

Seorang profesor geologi dan sumber daya air di Institut Penelitian Afrika Abbas Sharaqi mengatakan air Zamzam di Mekah itu merupakan "air terbarukan".

"Sumber airnya berasal dari hujan di Mekah. Mekah adalah daerah pegunungan dan salah satu lembahnya adalah lembah Ibrahim yang menampung sumur Zamzam di daerah dataran rendah," jelas dia.

Dilansir dari cnnindonnesia.com, Sharaqi menuturkan terdapat endapan sungai sepanjang 14 meter yang disebabkan oleh air hujan di pegunungan yang kemudian jatuh ke dataran rendah dan berubah menjadi sedimen. Proses ini membutuhkan waktu jutaan tahun untuk membuat sumur Zamzam sedalam 14 meter.

Di bagian paling bawah sumur terdapat bebatuan yang mengumpul sehingga membuat sumur tersebut memiliki kedalaman total 35 meter; sedimen 14 meter dan batuan dalam 21 meter.

Dengan curah hujan dan proses penyimpanan, air terus diperbarui. Sharaqi menambahkan air yang berasal dari di sumur Zamzam hanya digunakan sebagai air minum jamaah haji dan tidak digunakan untuk pertanian.

"Sumur zamzam telah digunakan selama lebih dari 4.000 tahun, ini membuat kami berpikir bahwa jika tidak ada hujan di Arab Saudi, airnya akan habis. Namun, mengingat kondisi iklim yang stabil dan tidak berubah, sumur dapat terus berjalan apa adanya," jelasnya. 

Di beberapa titik selama era Ottoman, sumur itu ditutup di dalam sebuah bangunan. Selama berabad-abad, lokasi ini mengalami banyak perubahan. Pada 1964, lokasi ini dibongkar ketika Mataf harus diperluas untuk keamanan dan kenyamanan jamaah haji yang jumlahnya semakin meningkat setiap tahunnya.

Sumur Zamzam juga ditutup dan lubangnya diposisikan ulang di dalam ruang bawah tanah sedalam 2,5 meter. Saat ini, pompa listriknya dapat menyedot hingga 18,5 liter air per detik.

Baca juga: Berasal dari Kota Kecil, Wanita Ini Menjelma Menjadi Wanita Pertama yang Memimpin Badan Ilmiah Top India

Sempat DiRevolusi

Pada 2013, Proyek Air Zamzam Raja Abdullah bin Abdulaziz (KPZW) digelar dengan anggaran US$187 juta atau sekitar Rp2,7 triliun. Tujuannya, merevolusi cara pengambilan, ekstraksi, pemantauan, pengolahan, dan distribusi air zamzam.

Air dipompa melalui pipa baja tahan karat bawah tanah ke pabrik KPZW di Kudai, lima kilometer di selatan Masjidil Haram. Di sini, air dimurnikan dan disterilkan, menggunakan filter dan sinar ultraviolet, dan seluruh operasi dikendalikan dan dipantau di ruang kontrol pusat berteknologi tinggi.

Setelah pengolahan, air dipindahkan ke salah satu dari dua reservoir penyimpanan. Yang pertama, di Kudai, memiliki kapasitas 10.000 meter kubik dan memasok air melalui pipa ke kran air minum di Masjidil Haram di Makkah.

Dari Kudai, armada truk tangki mengangkut hingga 400.000 liter sehari ke Waduk Raja Abdulaziz Sabeel di Madinah, yang memiliki kapasitas 16.000 meter kubik dan memasok air ke Masjid Nabawi.


Informasi Anda Genggam


Loading...