Kekacauan dan Anarki di Haiti Sebabkan 234 Tewas, Ribuan Terperangkap Tanpa Makanan, Air dan Bahan Bakar

Amastya
Minggu, 17 Juli 2022 | 12:32 WIB
Kekacauan dan anarki di Haiti yang menghancurkan /Courrier international R24/tya Kekacauan dan anarki di Haiti yang menghancurkan /Courrier international

RIAU24.COM - Kekerasan geng brutal, kekurangan bahan bakar dan melonjaknya harga komoditas pangan telah membuat ibu kota Port-au-Prince di Haiti terhenti.

Menurut perkiraan PBB, sekitar 234 orang telah kehilangan nyawa atau terluka dalam kekerasan tersebut, dengan laporan baru tentang kekerasan seksual juga terungkap.

Baca juga: Mumbai berjuang untuk menahan wabah campak saat virus membunuh 10 anak

Menurut wakil walikota, Jean Hislain Frederick, kekerasan meletus di lingkungan kota Cite Soleil minggu lalu (Kamis) ketika dua geng yang bersaing terlibat dalam pertempuran berdarah di antara mereka sendiri. Dalam waktu singkat, kekerasan menyebar dan seluruh kota terbakar.

Menurut organisasi kemanusiaan bernama Medecins Sans Frontieres, yang lebih dikenal sebagai Doctors Without Borders, ribuan orang terjebak tanpa air minum, makanan, atau perawatan medis.

Organisasi bantuan telah memohon kepada kelompok-kelompok bersenjata untuk menyelamatkan warga sipil.

Badan bantuan juga meminta geng untuk membiarkan mereka mencapai lingkungan terpencil di Brooklyn yang telah benar-benar terputus dari arus utama.

“Sebagian besar korban tidak terlibat langsung dalam geng dan menjadi sasaran langsung oleh elemen geng. Kami juga menerima laporan baru tentang kekerasan seksual,” kata Jeremy Laurence selaku juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB.

Salah satu pelaku utama dalam insiden tersebut adalah Jimmy Cherizier, panggilan akrab Barbecue, seorang mantan polisi dan pemimpin geng bernama G-9.

Bulan lalu, Cherizier terlihat memposting video di berbagai platform media sosial untuk mencuci otak dan merekrut anak-anak muda yang mudah dipengaruhi untuk bergabung dengan gengnya, sambil menyebarkan propagandanya.

Kelambanan lembaga penegak hukum hanya meningkatkan kepercayaan ke geng tersebut.

Baca juga: Jepang: Pengunduran Diri Menteri Kabinet Ketiga Dalam Sebulan Memberi Tekanan Pada PM Fumio Kishida

Disisi lain, Program Pangan Dunia PBB (WFP) telah mengeluarkan peringatan bahwa situasi kelaparan akan memburuk di kota dan juga negara.

Migrasi besar-besaran diperkirakan akan terjadi ketika warga Haiti biasa melarikan diri ke negara tetangga yakni Republik Dominika atau meninggalkan Karibia ke Amerika Serikat.

(***)


Informasi Anda Genggam


Loading...