Jelang Pilpres 2024, Priyo: Sudahi Cebong, Kadrun dan Buzzer

Amastya
Rabu, 03 Agustus 2022 | 10:24 WIB
Priyo sebut agar fenomena cebong, kadrun dan buzzer tidak terulang lagi di Pilpres 2024 /Jawapos R24/tya Priyo sebut agar fenomena cebong, kadrun dan buzzer tidak terulang lagi di Pilpres 2024 /Jawapos

RIAU24.COM - Jelang Pilpres 2024, diharapkan para tokoh politik untuk tidak mengulangi disintegrasi cebong-kadrun. Saat ini, bangsa sedang dikhawatirkan karena sedang menghadapi potensi perpecahan akibat timbulnya dua kubu tersebut di pilpres 2019 lalu.

Baca juga: PDIP Minta Jokowi Tolak Ajakan Jadi Wapres di 2024

Pendapat ini disampaikan oleh Priyo Budi Santoso selaku Pendiri Pridem Institute dalam siaran persnya bahwa ia menghormati pidato Surya Paloh mengenai bahaya perpecahan bangsa saat ini.

“Saya menyampaikan salut dan hormat atas pidato orasi Abangda Surya Paloh yang hebat dan inspiratif tentang warning bahayanya perpecahan bangsa,” kata Priyo pada Senin (1/8/2022) dikutip sindonews.

Menurutnya, Surya Paloh sedang membangunkan pikiran berpolitik yang selama ini tertidur dan abai terhadap bahaya perpecahan. Ia menambahkan, pidato itu disampaikan pada waktu dan momentum yang tepat, yaitu saat mau memasuki tahun politik pilpres dan pileg.

Kemudian, mengenai fenomena Cebong versus Kadrun, priyo menilai itu menjadi hal yang mempertajam polarisasi masyarakat untuk berkubu-kubu dan tidak bersatu.

"Ini harus segera disudahi, segera tutup buku dan tamat riwayat sebelum memasuki tahun politik 2024. Kesengajaan melanggengkan Buzzer-Cebong-Kadrun sama saja membiarkan api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membakar tatanan sosial bangsa,” ungkap pria yang pernah menjabat Wakil Ketua DPR periode 2009-2014 tersebut.

Selanjutnya, Priyo menyetujui mengenai politik identitas yang dianggapnya lumrah dalam politik dan demokrasi. Ia mengatakan, identitas merupakan trademark dan ciri khas perjuangan suatu kelompok politik dan itu diperbolehkan.

"Sejarah perpolitikan kita (Pemilu 1955) bahkan pernah mengalami ragam politik identitas yang sangat berwarna,” ujarnya.

Pada Pemilu 1955 politik identitas seperti nasionalis, komunis, agamis (partai Islam, Kristen, Katolik) tampil dengan elegan. Namun, Priyo mengatakan justru itulah yang membuat Pemilu pada masa itu menjadi pemilu yang paling orisinil dan demokratis.

"Kuncinya ternyata para tokoh politik zaman itu berdinamika dalam tradisi dan koridor moralitas politik yang wisdom,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, orasi Surya Paloh adalah orasi pencerahan bangsa. Dia mengajak dan menunggu pikiran-pikiran dari tokoh-tokoh bangsa seperti Presiden Jokowi, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jusuf Kalla (JK), Try Sutrisno.

Dia juga mengharapkan, pikiran dari para ketua umum partai politik ternama seperti Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, AHY, Ahmad Syaikhu, Zulkifli Hasan, maupun Suharso Monoarfa.

“Tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas nantinya menjadi penentu lahirnya blok koalisi partai politik dalam pencalonan presiden mendatang,” tutur Priyo.

Baca juga: Mahfud MD Komentari Omongan AHY Soal Intervensi Negara dalam Kasus Lukas Enembe

Lebih lagi Priyo menambahkan, dengan sudah ditolaknya uji materi ambang batas pencalonan presiden, mereka yang disebutnya itulah yang menjadi harapan agar pilpre mendatang tidak lagi menciptakan dua kubu besar seperti cebong dan kadrun.

"Kita tentu berharap kondisi seperti Pemilu 2019 tidak boleh terulang lagi. Jangan sampai politik menjadi bensin yang meletupkan perpecahan bangsa,” pungkasnya.

(***)


Informasi Anda Genggam


Loading...