Kasian Anak Kos, Harga Mie Instan Naik 3 Kali lipat dari Harga Normal, Kok Bisa?

Zuratul
Kamis, 11 Agustus 2022 | 09:55 WIB
Ilustrasi/mediamaya R24/zura Ilustrasi/mediamaya

RIAU24.COM - Isu kenaikan harga mi instan tengah menjadi sorotan, jajaran pemerintah mulai dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mewanti-wanti masyarakat terkait kemungkinan naiknya harga mi instan.

Kenaikan harga mi instan ini disebut gara-gara konflik atau perang yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina kedua negara itu termasuk dalam produsen gandum terbesar di dunia, dikutip CNN Kamis (11/8). 

Karenanya, perang akan membuat pasokan gandum, yang merupakan bahan baku mi instan, dari dua negara tersebut terhambat dan membuat harga mi instan dalam negeri naik.

Baca juga: Update Korban Tragedi Kanjuruhan: 33 Anak Meninggal Dunia

Apalagi Indonesia termasuk negara pengimpor gandum terbesar, dikutip dari akun tiktok @Rikhi Hasibuan Kamis (11/8/2022).

Meski Jokowi hingga Mentan mewanti-wanti harga mi instan naik, namun Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan hingga bos produsen Indomie, yakni Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus (Franky) Welirang punya pandangan berbeda.

Berikut beda pernyataan antara Jokowi hingga Zulkifli Hasan terkait kenaikan harga mi instan.

Pada perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Lapangan Merdeka, Medan 7 Juli lalu, Jokowi mengatakan perang Ukraina dan Rusia menimbulkan dampak persoalan pangan dunia, salah satunya mahalnya harga gandum.

Jokowi mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati atas mahalnya harga komoditi pangan dunia, utamanya harga gandum. Hal ini karena Indonesia masih mengimpor gandung dari luar negeri.

”Kita juga impor gandum gede banget (Sebanyak) 11 juta ton impor gandum kita. Ini hati-hati. Yang suka makan roti, yang suka makan mie bisa harganya naik," sebut Jokowi.

Kenaikan harga gandum, kata Jokowi, faktor utamanya adalah perang Rusia dan Ukraina. Jokowi mengatakan harga naik karena stok gandum di Rusia dan Ukraina tidak bisa dijual.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan alias Zulhas meyakini kenaikan harga gandum saat ini diharapkan tidak membuat harga mi naik. Sebab panen gandum saat ini di negara produsen telah membaik.

”Nggak, mudah-mudahan. Dulu kan gagal panennya di Australia, Kanada, Amerika Serikat (AS) ya. Sekarang panennya sukses," katanya kepada awak media, di Kantor Kementerian Perdagangan, Rabu (10/8/2022).

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang merupakan produsen Indomie, Franciscus Welirang menepis pernyataan Syahrul. Pria yang akrab disapa Franky tersebut mengatakan isu kenaikan harga mi instan yang bisa mencapai 3 kali lipat adalah hal yang berlebihan.

Baca juga: Update Korban Tragedi Kanjuruhan: 33 Anak Meninggal Dunia

”Harga mi instan bisa saja naik, bisa saja. Tapi kalau ada pernyataan yang mengatakan bisa 3 kali lipat, itu berlebihan. sangat-sangat berlebihan," kata Franky. 

Berikut Riau24 mengutip beberapa perkataan dari Rikhi, si pemilik akun TikTok. 

"Biasanya makan mi instan alasannya 'biar hemat' tapi kalau sudah seharga nasi bungkus makan mie instan namanya pemborosan, uang habis, usus buntu pun menyertaimu", ujarnya.

”Gara- gara kabar ini anak kost pun ketar ketir, ya untungnya masih ada promag oki jellydrink, dan mi gelas semoga setelah ini mi instan gak langka dan semoga tidak ada penimbunan mi instan," ujar Rikhi. 

 "Kan gak lucu di supermarket ada  ibu-ibu lagi ngantri rebutan mi instan, karena menemukan dengan  harga murah," ujar Rikhi.

(***)


Informasi Anda Genggam


Loading...