Studi Menyebutkan Diet Psikobiotik Dapat Mengurangi Perasaan Stres

Zuratul
Senin, 07 November 2022 | 15:03 WIB
Ilsutrasi (Kumparan/Foto) R24/zura Ilsutrasi (Kumparan/Foto)

RIAU24.COM - Sekelompok peneliti dari University College Cork (UCC) Irlandia telah mengembangkan diet psikobiotik yang mengklaim bisa mengurangi perasaan stress individu yang sehat. Diet ini kaya akan makanan prebiotik dan fermentasi.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Molecular Psychiatry melibatkan 45 sukarelawan sehat fisik dan mental berusia 18 hingga 59 tahun. 

Baca juga: Peringati Hari Kanker Sedunia, IDI Pekanbaru Gelar Berbagai Kegiatan

 

Para peserta studi umumnya menerapkan diet dengan sedikit serat di kesehariannya.

Di antara panel ini, 24 sukarelawan mengikuti diet psikobiotik selama empat minggu. Setiap hari, para relawan ini diminta untuk mengonsumsi enam hingga delapan porsi buah dan sayuran yang kaya serat prebiotik meliputi bawang merah, daun bawang, apel, kubis).

Kemudian, peserta tersebut juga diharuskan mengonsumsi lima hingga delapan porsi biji-bijian, dan dua hingga tiga porsi makanan fermentasi seperti kombucha, kefir dan sauerkraut. 

Setiap minggu, peserta diminta untuk mengonsumsi tiga hingga empat porsi kacang polong. Sementara relawan lainnya mengikuti diet berdasarkan rekomendasi diet klasik untuk makan sehat.

Selama penelitian, para spesialis mengumpulkan data tentang tingkat stres dan kesehatan mental menggunakan kuesioner. Selain itu, mereka menganalisis sampel tinja untuk mengamati perubahan bahan kimia tertentu yang dihasilkan oleh mikroba usus.

Baca juga: Nigeria Umumkan Status Darurat Demam Lassa, Penyakit Virus Tikus

 

Para peneliti menemukan bahwa diet psikobiotik bisa mengurangi 32 persen perasaan stres di antara peserta. Selain itu, para ahli mencatat peningkatan kualitas tidur. Perbedaan juga dicatat dalam mikrobiota usus.

Efek positif diet pada kesehatan mental bergantung pada hubungan antara usus dan otak. 

“Menggunakan diet bertarget mikrobiota untuk memodulasi komunikasi usus-otak secara positif memiliki kemungkinan untuk pengurangan stres dan gangguan terkait stres, tetapi penelitian tambahan diperlukan untuk menyelidiki mekanisme yang mendasarinya, termasuk peran mikrobiota,” kata para peneliti seperti dilansir dari Malay Mail, Ahad (6/11/2022).

(***)
 


Informasi Anda Genggam


Loading...